Peneliti Universitas Bremen baru saja memecahkan misteri bagaimana otak kita bisa menyaring kebisingan sehari-hari dan memilih informasi penting untuk diproses, sebagaimana dilansir dari New Atlas. Temuan ini dapat mengubah cara kita memahami dan menangani gangguan perhatian seperti ADHD, Alzheimer, atau skizofrenia.
Intinya, ingatan dan perhatian kita sangat dipengaruhi oleh gelombang gamma, yaitu ritme otak yang berosilasi antara 30 hingga 90 kali per detik. Saat kita berada di lingkungan penuh suara dan gangguan, otak mengirimkan sinyal sensorik melalui gelombang gamma menuju pusat pemrosesan. Jika sinyal tiba pada fase puncak gelombang, informasi akan diperkuat dan diproses lebih lanjut. Sebaliknya, sinyal yang datang terlalu cepat atau terlambat akan diredam, sehingga tidak mengganggu fokus.
Untuk membuktikan hal ini, tim peneliti merekam aktivitas otak monyet makaka yang menjalani tugas perhatian visual. Sinyal buatan disuntikkan ke area V2 (yang mengenali tepi dan tekstur), lalu ditelusuri ke area V4 (yang mengolah bentuk kompleks). Hasilnya menarik: hanya sinyal yang masuk selaras dengan fase “penerimaan” di V4 yang mengubah respons neuron dan memperlambat kinerja tugas, seolah-olah gangguan itu ikut diproses. Jika sinyal datang di luar fase tersebut, pengaruhnya lenyap sama sekali.
Penemuan ini mengungkap bahwa waktu sangat krusial dalam jalanan sinyal otak. Neuron tidak aktif terus-menerus; mereka bekerja dalam siklus singkat selama 10–20 milidetik. Dengan memanfaatkan siklus ini sebagai “gerbang waktu,” otak dapat memilih informasi mana yang layak diprioritaskan dan mana yang diabaikan.
Gangguan dalam ritme gamma tampak menjadi penyebab kesulitan fokus pada penderita ADHD, Alzheimer, dan skizofrenia. Sebagai contoh, riset sebelumnya menunjukkan bahwa stimulasi cahaya berfrekuensi 40 Hz pada tikus model Alzheimer mampu mengurangi plak amiloid dan mengaktifkan sel kekebalan otak untuk membersihkan protein beracun. Dari hasil Bremen ini, semakin jelas mengapa terapi ritme gamma dapat membantu memulihkan fungsi kognitif.
Lebih jauh lagi, pemahaman ini membuka peluang untuk mengembangkan teknologi antarmuka otak-komputer yang lebih presisi, atau metode stimulasi non-invasif untuk meningkatkan fokus dan ingatan manusia. Dengan menyesuaikan gelombang rangsang agar selaras dengan ritme alami otak, sinyal yang diinginkan bisa diterima lebih mudah, sementara gangguan dapat diminimalkan.
Kesimpulannya, otak kita bukan hanya soal seberapa kuat sinyal yang dikirim, tapi juga kapan sinyal itu tiba. Misteri perhatian dan ingatan kini semakin terang berkat kunci waktu dari gelombang gamma, yang membuktikan bahwa ritme otak memegang peranan sentral dalam menyaring dunia yang ramai menjadi informasi yang bermakna.



