Bayangkan jika reaktor nuklir yang biasanya dipakai untuk menggerakkan kapal induk bisa dialihkan fungsinya menjadi sumber listrik darat. Inilah ide dari HGP Intelligent Energy, perusahaan asal Texas yang ingin memanfaatkan teknologi militer untuk kebutuhan sipil, dilansir dari New Atlas.
Masalahnya, pusat data yang menopang kecerdasan buatan (AI) sangat rakus energi. Diperkirakan, pada tahun 2035 pusat data bisa menyumbang hingga 40% pertumbuhan permintaan listrik di Amerika Serikat. Karena itu, perusahaan teknologi berlomba mencari sumber daya yang kuat, stabil, dan bisa beroperasi 24 jam nonstop.
Lewat proyek bernama CoreHeld Project, HGP mengusulkan penggunaan reaktor nuklir yang sama dengan yang dipakai kapal induk terbaru Gerald R Ford. Dua reaktor akan dimodifikasi dan dipasang di fasilitas pantai khusus, mampu menghasilkan listrik konstan hingga 520 megawatt untuk pusat data. Proyek percontohan direncanakan berdiri di Laboratorium Nasional Oak Ridge pada 2029.
Biayanya diperkirakan antara 1,8 miliar dolar (sekitar Rp28,8 triliun) hingga 2,1 miliar dolar (sekitar Rp33,6 triliun). Angka ini jauh lebih murah dibanding reaktor konvensional, dan pembangunannya lebih cepat karena desain reaktor angkatan laut sudah terbukti selama lebih dari 70 tahun.
Namun, ada tantangan besar. Desain reaktor sangat rahasia, sehingga staf pusat data tidak boleh mengaksesnya. Hanya kru pemeliharaan dengan izin khusus atau veteran program nuklir Angkatan Laut yang bisa menangani. Selain itu, bahan bakar reaktor baru akan dimodifikasi menjadi uranium dengan kadar rendah sekitar tahun 2030. Meski begitu, isu keamanan dan regulasi masih menjadi pekerjaan rumah sebelum proyek ini bisa benar-benar dijalankan secara luas.
Pax Insight
CoreHeld Project menunjukkan bahwa solusi energi untuk AI mungkin datang dari teknologi militer lama yang dialihkan fungsinya. Ide ini praktis, tetapi membawa tantangan besar dalam hal keamanan, regulasi, dan penerimaan publik.



