Meskipun media sosial masih mendominasi kehidupan digital remaja, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai memainkan peran penting. Laporan terbaru dari Pew Research Center via Engadget, mengungkapkan bahwa hampir satu pertiga remaja di Amerika Serikat menggunakan chatbot AI setiap hari atau bahkan lebih sering.
Survei yang dilakukan pada akhir 2025 ini melibatkan 1.458 remaja AS berusia 13 hingga 17 tahun. Hasilnya menunjukkan 48 persen remaja menggunakan chatbot AI "beberapa kali seminggu" atau lebih sering. Rinciannya lebih menarik: 12 persen menggunakan "beberapa kali sehari," dan 4 persen mengaku menggunakannya "hampir terus-menerus."
Angka "terus-menerus" ini memang masih jauh di bawah penggunaan aplikasi raksasa lain. Sebagai perbandingan, 21 persen remaja menggunakan TikTok hampir terus-menerus, dan 17 persen untuk YouTube. Namun, mengingat teknologi AI generatif masih relatif baru dibanding media sosial yang sudah mapan, tingkat adopsi ini tergolong signifikan.
Dalam hal popularitas platform, ChatGPT buatan OpenAI menjadi raja tak terbantahkan di kalangan remaja. Sebanyak 59 persen remaja mengaku pernah menggunakan ChatGPT. Di posisi kedua ada Gemini dari Google dengan 23 persen, diikuti Meta AI dengan 20 persen. Microsoft Copilot hanya digunakan oleh 14 persen remaja, sementara Character AI dan Claude masing-masing 9 persen dan 3 persen.
Laporan ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap keamanan AI bagi pengguna muda. OpenAI dan Character AI saat ini menghadapi tuntutan hukum dari orang tua yang menuduh interaksi anak mereka dengan chatbot berkontribusi pada kasus bunuh diri. Menanggapi hal ini, beberapa perusahaan mulai memperketat aturan keamanan untuk pengguna di bawah umur.
Di sisi lain, pola penggunaan media sosial tradisional cenderung stabil. YouTube tetap menjadi platform paling dominan dengan jangkauan 92 persen remaja, disusul TikTok (69%), Instagram (63%), dan Snapchat (55%). WhatsApp mencatat pertumbuhan, dengan pengguna remaja naik menjadi 24 persen dibanding 17 persen pada tahun 2022.
Pax Insight
Data ini menandai pergeseran mendasar: AI bukan lagi sekadar alat bantu sesekali untuk tugas sekolah, melainkan sudah menjadi pendamping harian bagi generasi muda. Dominasi ChatGPT menunjukkan keunggulan sebagai pelopor, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah intensitas penggunaannya.
Jika 4% remaja sudah terus-menerus berinteraksi dengan AI, muncul pertanyaan apakah mereka mulai menggantikan interaksi sosial dengan teman manusia menggunakan teman artifisial. Ini bukan lagi sekadar isu waktu layar, melainkan penggantian hubungan: tantangan psikologis baru di mana batas antara teman nyata dan simulasi algoritma semakin kabur bagi generasi digital.



