Musim liburan akhir tahun identik dengan dua hal: tukar kado dan tren perusahaan teknologi yang "memamerkan" kembali data pengguna mereka dalam bentuk ringkasan tahunan yang seru. Mengikuti jejak Spotify Wrapped yang populer, Valve kini merilis Steam Replay 2025, sebuah fitur kilas balik untuk melihat kebiasaan bermain game PC kamu sepanjang tahun ini, dilansir dari Engadget.
Ini adalah tahun keempat Valve menghadirkan fitur rangkuman ini. Steam Replay menyajikan data statistik yang menarik, mulai dari judul game yang paling sering kamu mainkan, total jumlah game yang dicoba, hingga berapa banyak achievement yang berhasil kamu buka. Tak hanya itu, kamu juga bisa melihat rekor hari bermain berturut-turut terpanjangmu.
Analisis yang diberikan cukup mendalam. Steam Replay memecah kebiasaan bermainmu berdasarkan kategori permainan (genre), seberapa sering kamu menggunakan konsol genggam Steam Deck, serta perbandingan antara game baru rilis dengan game lawas yang masih kamu mainkan. Ada pula grafik bulanan yang menunjukkan kapan kamu paling aktif bermain.
Yang paling menarik, fitur ini membandingkan statistik pribadimu dengan rata-rata pengguna Steam di seluruh dunia. Data ini menunjukkan bahwa banyak akun Steam mungkin hanya bermain sesekali, sehingga menurunkan angka rata-rata global.
Tren "kilas balik" semacam ini memang sedang menjamur. Tidak hanya layanan hiburan seperti PlayStation dan Apple Music, bahkan aplikasi transportasi seperti Uber dan koran The New York Times pun ikut-ikutan membuat versi mereka sendiri tahun ini.
Penasaran dengan rapor gaming kamu tahun ini? Kamu bisa langsung mengecek Steam Replay 2025 dengan mengunjungi situs web resmi Steam dan masuk menggunakan akunmu.
Pax Insight
Fenomena fitur kilas balik tahunan seperti Steam Replay membuktikan bahwa data pengguna bukan lagi sekadar aset perusahaan untuk iklan, tetapi bisa dikemas menjadi produk konten yang viral. Bagi gamer, ini adalah validasi sosial dan momen nostalgia; bagi Valve, ini adalah alat pemasaran gratis yang brilian. Ketika pengguna membagikan statistik mereka di media sosial, secara tidak langsung mereka sedang mengiklankan platform Steam kepada teman-temannya, memperkuat komunitas, dan memicu rasa kompetitif, "Wah, teman saya main 50 game, masa saya cuma 5?".



