Penjualan konsol PlayStation 5 di Amerika Serikat mencapai titik tertinggi pada awal 2026. Lonjakan tajam ini terjadi tepat pada pekan yang berakhir 4 April sesaat sebelum kebijakan kenaikan harga dari Sony resmi diberlakukan pada 2 April.
Kenapa ini terjadi?
Ketakutan konsumen terhadap inflasi harga gawai terbukti sangat nyata. Bagi para gamer di Indonesia tren kenaikan harga global yang berkelanjutan ini menjadi peringatan penting. Mengingat harga komponen komputer rakitan juga makin melambung mahal memiliki konsol generasi saat ini maupun masa depan akan membutuhkan anggaran yang jauh lebih besar.
Apa saja detailnya?
- Rekor Pengeluaran: Data dari pakar industri Circana yakni Matt Piscatella menunjukkan pengeluaran warga AS untuk perangkat keras permainan video naik hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
- Daya Tarik PS5 Pro: Belum dirinci apakah rekor penjualan ini mencakup versi dasar saja atau termasuk model PS5 Pro. Namun PS5 Pro kini makin diminati sebagai alternatif masuk akal di tengah mahalnya komponen komputer kelas atas.
- Lebih Mahal dari Awal Rilis: Tren harga yang terus meroket membuat PlayStation 5 dan Xbox Series X dan S kini dijual jauh lebih mahal dibandingkan harga peluncuran perdananya pada November 2020.
- Ancaman Penjualan PlayStation 6: Bos Alderon Games Matthew Cassells memprediksi Sony akan kesulitan membujuk pengguna untuk beralih ke PlayStation 6 kelak. Apalagi jika konsol penerus tersebut diluncurkan pada kisaran harga fantastis sekitar USD700 atau sekitar Rp11.200.000.
Pax insight
Lonjakan penjualan akibat kepanikan ini kemungkinan besar akan diikuti dengan kelesuan pasar pada bulan-bulan berikutnya. Akan sangat menarik untuk melihat apakah potensi anjloknya daya beli konsumen kelak memaksa Sony merombak strategi harga mereka secara global termasuk penyesuaian untuk pasar Indonesia.



