Hibura
Kamis, 18 Desember 2025 16:03 WIB

Penjualan hardware di AS ada di titik terendah, penjualan konsol terjun bebas

Penjualan hardware game di AS November 2025 merosot tajam akibat kenaikan harga. Battlefield 6 pimpin chart tahunan meski game COD baru telah rilis.

Bulan November biasanya identik dengan keriuhan belanja Black Friday, namun tahun 2025 justru menjadi periode yang cukup "dingin" bagi industri video game di Amerika Serikat. Menurut laporan terbaru dari Circana yang dirilis oleh Direktur Eksekutif Mat Piscatella, penjualan perangkat keras dan fisik mengalami titik terendah yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade terakhir.

Total belanja konsumen untuk video game, perangkat keras, dan aksesori pada November 2025 tercatat sebesar USD5,9 miliar (sekitar Rp), atau mengalami penurunan sebesar 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara khusus, pengeluaran untuk hardware merosot tajam sebesar 27% menjadi hanya USD695 juta (sekitar Rp).

Angka ini mencatatkan rekor sebagai total belanja perangkat keras terendah kedua di AS sejak November 2005. Sementara itu, jumlah unit yang terjual merupakan yang terendah sejak November 1995.

Penurunan unit ini dilansir dari laman Wccftech (18/12) terlihat jelas pada semua platform konsol utama yang beredar di pasar. Penjualan unit Xbox Series X/S mencatat penurunan paling drastis sebesar 70% jika dibandingkan dengan November 2024, dimana merupakan kabar yang cukup mengerikan.

Di sisi lain, PlayStation 5 mengalami penurunan sebesar 40%, sementara Nintendo Switch turun 10%. Perlu dicatat bahwa penurunan pada angka Nintendo Switch tetap terjadi meskipun perangkat generasi terbaru, Switch 2, sudah resmi tersedia bagi konsumen.

Sektor Aksesori Lesu, Namun Konten Digital Menunjukkan Pertumbuhan

Sektor aksesori juga tidak luput dari tren negatif dengan penurunan belanja sebesar 13% menjadi $327 juta, di mana penjualan kontroler secara spesifik anjlok hingga 19%. Satu-satunya area yang menunjukkan pertumbuhan positif adalah segmen konten, yang mencakup penjualan game digital, DLC, dan layanan berlangganan, dengan kenaikan tipis sebesar 1%. Meski demikian, penjualan game dalam format fisik tetap turun 14% dibandingkan tahun lalu, mencetak rekor terendah lainnya untuk bulan November sejak pelacakan data dimulai.

Mat Piscatella menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama di balik lesunya pasar adalah melambungnya harga perangkat keras dan game dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai perbandingan, rata-rata harga konsol pada November 2019 berada di angka USD239 (sekitar Rp), sementara saat ini rata-rata harga konsol di AS telah mencapai USD439 (sekitar Rp). Kenaikan harga ini tetap bertahan bahkan untuk konsol yang secara teknis sudah masuk kategori generasi sebelumnya, sehingga membatasi akses bagi konsumen dengan anggaran terbatas.

Tekanan Harga Komponen RAM Terhadap Stabilitas Pasar

Selain inflasi umum, tekanan pada harga memori (RAM) juga diprediksi akan terus memberikan dampak negatif bagi masa depan industri teknologi. Jika tren kenaikan harga RAM terus berlanjut, harga konsol dan PC gaming diprediksi akan semakin sulit untuk stabil dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini dianggap sebagai sinyal bahaya (red flag) yang dapat memberikan efek berantai pada penjualan konten, karena semakin sedikit konsumen yang mampu membeli perangkat khusus untuk bermain game.

Di tengah kelesuan pasar perangkat keras, persaingan judul game terpopuler tetap berlangsung sengit di pasar Amerika Serikat. Call of Duty: Black Ops 7 berhasil menjadi game dengan penjualan tertinggi untuk bulan November 2025. Namun, judul ini belum mampu menembus posisi lima besar dalam grafik penjualan premium game sepanjang tahun berjalan. Posisi puncak untuk grafik tahunan (year-to-date) masih kokoh ditempati oleh Battlefield 6, yang juga menempati urutan kedua sebagai game terlaris selama bulan November 2025.