Sebuah kelompok peretas yang bersimpati dengan Rusia telah mengumumkan diri sebagai dalang serangan DDoS terhadap layanan pos nasional Prancis, La Poste, yang terjadi pada 22 Desember. Serangan siber yang disebut distributed denial-of-service ini menyebabkan sistem komputer pusat La Poste seluruhnya offline dan menimbulkan gangguan besar dalam pengiriman paket hanya beberapa hari sebelum Natal.
Menurut laporan Engadget, serangan siber terhadap La Poste masih belum sepenuhnya teratasi hingga Rabu. Meskipun surat biasa tidak terpengaruh, pekerja pos tidak dapat melacak paket dan pembayaran online melalui La Banque Postale, divisi perbankan layanan tersebut, juga terganggu.
Kelompok yang dikenal sebagai Noname057 telah mengaku bertanggung jawab atau dituduh melakukan serangan siber di berbagai belahan dunia. Meskipun serangan telah terjadi di lebih dari belasan negara, kelompok ini sebagian besar menargetkan Ukraina serta negara-negara yang bersahabat dengan Ukraina.
Europol, badan penegak hukum Uni Eropa, meluncurkan operasi ekstensif terhadap kelompok ini pada musim panas. Departemen Kehakiman Amerika Serikat juga telah terlibat dalam tindakan terhadap kelompok peretas tersebut.
Serangan DDoS bekerja dengan cara mengirimkan volume lalu lintas internet yang sangat besar ke server target, sehingga menyebabkan sistem menjadi kewalahan dan tidak dapat melayani pengguna yang sah. Dalam hal La Poste, serangan ini memiliki dampak langsung pada kehidupan jutaan orang Prancis yang bergantung pada layanan pos untuk pengiriman paket, terutama selama musim liburan ketika volume pengiriman mencapai puncaknya.
La Poste, sebagai infrastruktur kritis nasional, menjadi target yang menarik bagi kelompok peretas yang memiliki motivasi geopolitik. Serangan terhadap layanan pos penting dapat mengganggu ekonomi, komunikasi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Insiden ini menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat diterjemahkan ke dalam dunia siber dan memengaruhi sistem infrastruktur sipil.
Pax Insight
Serangan Noname057 terhadap La Poste mengungkapkan kerentanan infrastruktur kritis Eropa terhadap ancaman siber yang termotivasi secara geopolitik dan menunjukkan bahwa konflik modern tidak lagi terbatas pada medan perang tradisional tetapi meluas ke ruang digital.



