Beberapa waktu lalu, tim Pax.id baru saja mengabarkan bahwa produsen smartphone sedang mempertimbangkan kembalinya slot kartu MicroSD di produk baru mereka. Namun baru-baru ini, ada kabar bahwa vendor smartphone sedang mempertimbangkan melakukan downgrade kapasitas RAM di smartphone mereka.
Dilansir dari laman Wccftech (14/12), para produsen mengatakan akan kembali menawarkan smartphone dengan RAM 4GB. Hal ini akan dilakukan di perangkat-perangkat entry-level, sementara untuk smartphone hing-end serta flagship akan diperlambat untuk adopsi RAM 16GB.
Hal ini sangat kontras karena selama satu tahun belakangan ini, smartphone flagship sudah menawarkan konfigurasi hingga 24GB RAM. TrendForce melaporkan bahwa kelangkaan DRAM saat ini akan memaksa smartphone entry-level untuk kembali menampilkan hanya 4GB RAM. Sementara model middle-range yang biasanya punya 12GB RAM, kemungkinan besar akan dibatasi antara 6GB hingga 8GB saja.
Strategic Shift: Samsung Prioritaskan Profit dengan Pindah ke DDR5 Biasa
Situasi ini beneran ngasih indikasi seberapa buruk kelangkaan DRAM global. Perusahaan sebesar Samsung pun dikabarkan shifting dari produksi HBM (High-Bandwidth Memory) dan lebih memilih memproduksi DDR5 biasa untuk memaksimalkan keuntungan. Keputusan yang didasarkan pada profitabilitas ini bikin supply memori berteknologi tinggi semakin ketat dan bikin harga memori consumer sulit dikendalikan.
Satu-satunya kabar baik dari transisi downgrade ini adalah potensi kembalinya fitur microSD card expansion yang selama ini hilang dari banyak flagship. Produsen smartphone mungkin harus membawa kembali fitur ini sebagai kompensasi atas memori internal yang terbatas. Ini adalah salah satu cara kreatif untuk memberikan fleksibilitas kepada user dalam mengelola storage dan data mereka di tengah keterbatasan RAM dan storage bawaan.
Konsekuensi lain dari penurunan RAM adalah smartphone akan terancam mengalami penurunan performa. Satu-satunya jalan keluar untuk menghindari hal ini adalah produsen harus menekan Google secara kolektif untuk mengoptimalkan platform Android agar bekerja lebih baik dengan RAM yang lebih sedikit. Ujungnya adalah meniru apa yang udah dilakukan Apple dengan iOS, yang terkenal ringan berjalan di memori yang relatif minim.
AI Processing Jadi Tantangan Berat: Kebutuhan Memori On-Device Tinggi
Tantangan terbesar yang dihadapi industri ini adalah on-device AI processing. Di era pemrosesan AI, memiliki memori yang lebih besar selalu menjadi kebutuhan. Laporan sebelumnya bahkan menyatakan bahwa 20GB RAM pada akhirnya akan menjadi spesifikasi mainstream untuk mendukung fungsionalitas ini. Jika RAM dipangkas, kemampuan smartphone untuk menjalankan Large Language Models (LLMs) secara lokal akan sangat terganggu, yang bisa merusak pengalaman user pada fitur AI.
Untungnya, developer udah mencari cara cerdas untuk mengatasi hambatan ini. Contohnya, Apple sedang berupaya menyimpan LLMs pada flash storage alih-alih RAM. Sementara itu, Samsung dikabarkan mengembangkan tipe storage UFS khusus yang akan dioptimalkan untuk generative AI. Ini menunjukkan bahwa jika produsen harus berkompromi pada hardware di perilisan mendatang, mereka wajib memikirkan cara kreatif untuk meningkatkan user experience agar gak kehilangan penjualan.



