Setelah mengalami perlambatan pertumbuhan meski pandemi telah usai, pasar smartphone global dikabarkan mulai menunjukkan geliat pertumbuhan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan melalui laporan terbaru yang diungkap oleh Counterpoint beberapa waktu lalu.
Berapa pertumbuhan penjualan smartphone global?
Dilansir dari laman Counterpoint (2/2), pada kuartal keempat (Q4) 2025, laju peningkatan penjualan smartphone global ada di angka 13% YoY. Jumlah penjualannya memecah rekor sebelumnya, yakni mencapai USD143 miliar atau sekitar Rp2.398 triliun.
Selain itu, data tersebut untuk pertama kalinya dalam sejarah melaporkan bahwa harga jual rata-rata (ASP) perangkat menembus angka USD400 atau sekitar Rp6,4 juta per unit. Counterpoint mengatakan angka ini merupakan angka tertinggi selama beberapa tahun terakhir, terutama saat pandemi.
"Pasar smartphone global menutup tahun 2025 dengan catatan positif, dengan pendapatan dan ASP (Average Selling Price) mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Tren premiumisasi tetap menjadi pendorong utama di Q4 2025, karena kami mengamati peluncuran awal perangkat unggulan dan kenaikan harga smartphone di beberapa wilayah karena kekurangan memori yang sedang berlangsung, yang mendorong kenaikan ASP secara keseluruhan," ujar Analis Senior Counterpoint, Shilpi Jain.
"Konsumen terus melakukan upgrade ke perangkat dengan harga lebih tinggi baik di pasar negara maju maupun berkembang, di mana penjualan liburan akhir tahun, pembiayaan, dan penawaran tukar tambah mendorong pertumbuhan nilai. Segmen kelas menengah juga mengalami daya tarik yang kuat, didukung oleh promosi dan peningkatan daya beli di pasar negara berkembang. Hal ini membantu mendorong pertumbuhan pengiriman smartphone secara keseluruhan selama kuartal tersebut meskipun terdapat kendala rantai pasokan yang terus-menerus dan biaya komponen yang tinggi.”
Kenapa ini penting?
Data ini mengkonfirmasi pergeseran pasar dari "volume" ke "nilai". Meskipun pengiriman unit hanya tumbuh moderat, yakni sekitar 5%, pendapatan melonjak tajam karena konsumen beralih ke perangkat premium dan produsen menaikkan harga akibat lonjakan biaya komponen.
Siapa yang mendominasi?
- Apple kuasai 59% total pendapatan industri. Tumbuh 23% berkat kesuksesan besar siklus upgrade iPhone 17, terutama model Pro.
- Samsung mencatat pertumbuhan pengiriman tertinggi di antara 5 besar (+17%), didorong oleh larisnya seri Galaxy A di pasar negara berkembang, meskipun ASP mereka turun 4%.
- OPPO dapat menyamai laju pertumbuhan pendapatan Apple (+23%) berkat suksesnya strategi premiumisasi lewat seri Reno 14 dan Find.
- Xiaomi mengalami penurunan pendapatan sekitar 9% dan pengiriman sekitar 11%. Xiaomi terpukul keras oleh kenaikan harga komponen yang menggerus margin di segmen entry-level dan menengah andalan mereka.

Kenaikan harga ini, menurut tim pax.id terjadi karena dipicu oleh dua faktor utama, yakni tren fitur AI-enabled yang membutuhkan hardware lebih canggih, serta kelangkaan dan kenaikan harga cip memori (DRAM/NAND) yang memaksa vendor menaikkan harga jual.
Namun, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang mahal bagi pengguna. Analis memperkirakan harga rata-rata akan terus naik seiring adopsi AI yang lebih dalam. Namun, biaya komponen yang tinggi berpotensi menekan volume pengiriman global, memaksa brand kecil untuk berjuang ekstra keras demi bertahan.



