iPhone Air jadi salah satu perangkat yang dibangga-banggakan oleh Apple saat peluncuran. Soalnya, ini merupakan perangkat iPhone modern yang paling tipis dan merupakan salah satu perangkat yang paling abisius. Namun, hasil penjualannya di tiongkok tidak menunjukkan ambisi Apple dalam menciptakan perangkat ini.
Kenapa ini penting?
Penjualan yang buruk menunjukkan bahwa konsumen di pasar smartphone terbesar di dunia ini lebih memprioritaskan spesifikasi teknis (seperti baterai dan kamera) dibandingkan sekadar desain tipis, terutama di segmen harga premium.
Apa penyebabnya?
Dilansir dair laman Wcftech (27/1), menurut data dari pembocor industri Ice Universe, dia menyoroti disparitas yang mencolok:
- Market Share : iPhone Air hanya terjual 200.000 unit di Tiongkok, sangat jauh tertinggal dibandingkan 17 juta unit untuk lini iPhone 17 lainnya.
- Depreciation : Perangkat ini mencatat tingkat depresiasi tertinggi sejak 2022, kehilangan 47,7% nilai aslinya hanya dalam 10 minggu pertama.
- Hardware Compromise : Rendahnya minat diduga kuat akibat spesifikasi yang dipangkas, termasuk kapasitas baterai yang kecil, speaker tunggal, dan hanya satu kamera belakang.
Apa kata angka?
- Rasio penjualan iPhone Air dibandingkan total penjualan seri iPhone 17 di Tiongkok hanya ada di angka 1,1% .
- Diskon besar-besaran harus diberikan oleh Apple di Tmall untuk menggenjot stok.
- Harga akhir iPhone Air di Tiongkok setelah berbagai subsidi dan diskon retail menjadi USD788 atau sekitar Rp13,1 juta.
Pax insight
Meskipun gagal secara komersial, Mark Gurman dari Bloomberg mencatat bahwa Apple memandang iPhone Air sebagai "platform eksperimental." Produk ini sukses mendorong adopsi eSIM di Tiongkok yang sebelumnya sangat resisten, serta menguji teknologi manufaktur ultra-tipis untuk produk masa depan.
Apple kemungkinan akan memposisikan ulang model ini sebagai produk niche atau menggunakan pembelajaran dari iPhone Air untuk menyempurnakan teknologi baterai dan termal pada jajaran MacBook atau iPad generasi berikutnya.



