Membeli atau merakit PC baru pada tahun depan tampaknya akan menjadi tantangan besar bagi isi dompet para konsumen di seluruh dunia. Lembaga riset pasar IDC baru saja merilis estimasi terbaru yang menyebutkan bahwa rantai pasok global akan segera dihantam oleh gelombang kenaikan harga yang meluas.
Fenomena yang disebut sebagai "supercycle memori" ini perlahan berubah menjadi mimpi buruk, terutama bagi komunitas gamer dan profesional yang sangat bergantung pada performa perangkat keras terkini untuk menunjang aktivitas digital mereka.
Kenaikan Harga Komponen yang Saling Berantai
Krisis ini bermula dari harga RAM yang melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, yang kemudian memicu efek domino pada komponen krusial lainnya. Produsen kartu grafis raksasa seperti NVIDIA dan AMD dilaporkan mulai mempertimbangkan kenaikan harga produk mereka guna menutupi membengkaknya biaya produksi akibat mahalnya harga DRAM. Situasi ini menciptakan kondisi pasar yang sangat fluktuatif, di mana merakit satu unit PC secara mandiri bisa memakan biaya jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi anggaran pada tahun-tahun sebelumnya.
IDC, seperti dilansir dari laman Wccftech (21/12) menyebutkan bahwa kelangkaan memori ini terjadi di waktu yang sangat krusial, menciptakan sebuah "badai sempurna" bagi industri PC. Krisis pasokan ini berbenturan langsung dengan siklus pembaruan perangkat akibat berakhirnya masa dukungan Windows 10, serta masifnya kampanye pemasaran untuk kategori AI PC.
Ketidaksiapan rantai pasok dalam menghadapi permintaan yang bertumpuk ini memaksa para vendor untuk mengambil langkah ekstrem demi menjaga kelangsungan bisnis mereka di tengah tekanan biaya yang kian menghebat. Sejumlah vendor PC ternama seperti Lenovo, Dell, HP, Acer, hingga ASUS telah memberikan sinyal kuat mengenai kondisi pasar yang semakin sulit memasuki paruh kedua tahun 2026.
Mereka memperingatkan para klien tentang adanya potensi kenaikan harga produk sebesar 15% hingga 20% sebagai respons industri terhadap peningkatan biaya komponen. Langkah ini diambil melalui pengaturan ulang kontrak dan penyesuaian harga ritel global yang kemungkinan besar tidak akan bisa dihindari oleh konsumen akhir di berbagai wilayah.
IDC memperkirakan volume pengiriman pasar PC akan mengalami penurunan sebesar 4,9% pada tahun depan, dengan catatan angka ini bisa membengkak jika situasi memori kian memburuk. Menariknya, kondisi ini diprediksi akan menguntungkan para produsen Original Equipment Manufacturer (OEM) besar dibandingkan vendor lokal yang berfokus pada sistem rakitan sendiri (DIY).
Para pemain besar ini dianggap lebih mampu menawarkan sistem pre-built dengan nilai yang lebih kompetitif, sehingga memaksa para gamer untuk membeli sistem utuh daripada mencicil komponen satu per satu.
Hambatan pada Tren AI PC dan Standar RAM Perangkat
Euforia mengenai AI PC juga diprediksi akan melambat pada tahun 2026 akibat keterbatasan RAM yang sangat ketat. Fitur AI pada perangkat seperti Copilot+ memerlukan konfigurasi memori yang tinggi agar bisa berjalan optimal, namun mahalnya harga memori memaksa manufaktur untuk mengambil langkah mundur. Sebagai dampaknya, laptop kelas menengah kemungkinan besar akan kembali menggunakan standar RAM 8 GB demi menjaga harga jual tetap terjangkau, meskipun hal ini akan membatasi kemampuan pemrosesan AI secara lokal pada perangkat tersebut.
Melihat intensitas gangguan pada rantai pasok saat ini, tahun 2026 diproyeksikan akan menjadi salah satu tahun paling bermasalah bagi industri komputer. Beberapa pengamat bahkan menilai intensitas krisis ini berpotensi melampaui kesulitan yang pernah terjadi di era pandemi COVID-19 dan masa keemasan penambangan kripto beberapa tahun silam. Tanpa adanya normalisasi harga memori dalam waktu dekat, ambisi konsumen untuk memiliki teknologi terbaru mungkin harus tertunda hingga pasar benar-benar kembali stabil di masa mendatang.



