Gawai
Rabu, 15 April 2026 09:03 WIB

18 juta serangan siber berhasil diblokir sepanjang 2026 di Asia Tenggara

Kaspersky melaporkan telah memblokir 18 juta serangan siber sepanjang 2026 di wilayah Asia Tenggara.

Perusahaan di kawasan Asia Tenggara terus menghadapi gempuran ancaman siber berbasis web. Sepanjang tahun 2025 Kaspersky mencatat dan memblokir lebih dari 18 juta serangan berbahaya yang menargetkan berbagai bisnis di wilayah ini.

Kenapa ini penting?

Tingkat serangan ini mencerminkan tingginya adopsi digital dalam aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan Asia Tenggara. Ekonomi digital di kawasan ini diperkirakan bernilai sekitar US300 miliar atau setara Rp5.141,7 triliun saat ini dan diproyeksikan melonjak hingga US1 triliun atau setara Rp17.139 triliun pada tahun 2030. Oleh karena itu investasi pada solusi keamanan siber menjadi prioritas krusial untuk mencegah kerugian finansial dan kebocoran data.

Apa saja detailnya?

  • Sebaran Serangan: Vietnam menempati posisi puncak dengan 8,4 juta deteksi ancaman disusul oleh Malaysia dengan 3,3 juta insiden dan Indonesia dengan 3 juta insiden. Sementara itu Singapura dan Thailand masing-masing mencatat lebih dari 1,2 juta serangan web.
  • Paradoks Kematangan Digital: Meskipun volume serangan secara keseluruhan menurun Adrian Hia selaku Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky mencatat adanya peningkatan ancaman terarah di Singapura dan Vietnam. Hal ini sejalan dengan semakin matangnya kebijakan keamanan siber di lingkungan perusahaan pada kedua negara tersebut.
  • Risiko Ancaman Web: Ancaman ini mencakup situs web yang diretas serta unduhan berbahaya yang dapat memicu akses tanpa izin pencurian kredensial akun dan kelumpuhan jaringan layanan perusahaan.
  • Langkah Mitigasi: Organisasi disarankan untuk memperbarui sistem operasi secara berkala menggunakan kata sandi kuat dengan autentikasi dua langkah serta berinvestasi pada layanan keamanan terpadu tingkat lanjut seperti pusat operasi keamanan internal yang dipandu oleh ahli.

Pax insight

Rencana peningkatan anggaran teknologi perusahaan di Asia Pasifik sebesar 9,8 persen pada tahun 2026 menjadi sinyal positif. Perusahaan kini didorong untuk tidak sekadar membelanjakan dana pada pendorong produktivitas tetapi juga memperkuat lapisan pertahanan otomatis dan berbasis intelijen mereka demi menghadapi lanskap ancaman siber yang makin kompleks.