Para raksasa teknologi sedang gencar merebut posisi kepemimpinan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) dan melakukan perubahan besar di organisasi mereka. Tren ini tidak hanya terjadi di beberapa perusahaan saja, melainkan sudah meluas ke seluruh industri, di mana banyak perusahaan besar merestrukturisasi dan mengalihkan sumber daya untuk mendukung inisiatif AI.
Kini, sebuah sumber mengungkap bahwa perusahaan seperti Intel, IBM, dan Google mulai membekukan lowongan pekerjaan baru yang diperkirakan akan digantikan oleh otomatisasi cerdas dalam lima tahun mendatang. Menurut unggahan dari tipster terkenal, Unusual Whales, di platform X (sebelumnya Twitter), kabar tersebut menyebar luas yang membahas upaya para raksasa teknologi dalam AI dan prediksi pengambilan alih peran oleh AI dalam lima tahun ke depan.
Meskipun klaim pembekuan ribuan posisi baru oleh Intel, IBM, dan Google belum banyak dikonfirmasi oleh sumber lain, hal ini konsisten dengan laporan industri yang menunjukkan adanya pergeseran besar dalam alokasi sumber daya dan perubahan strategi manajemen tenaga kerja. Pergeseran ini bukan sekadar tentang penambahan atau pengurangan jumlah pekerja, seperti dilansir dari laman Wccftech (12/8).
Fortune juga melaporkan bahwa perusahaan teknologi besar tersebut memangkas ribuan posisi guna mengalokasikan modal dan ruang untuk investasi AI. Fokus mereka tidak hanya menggantikan tenaga kerja manusia, tetapi juga membuat peta jalan pertumbuhan yang digerakkan oleh AI.
CEO IBM, Arvind Krishna, bahkan memperingatkan bahwa fokus pada AI akan berdampak pada sekitar 30 persen posisi back-end perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Tidak hanya tiga perusahaan ini, laporan Economic Forum memperkirakan bahwa 41 persen pemberi kerja di seluruh dunia akan mengurangi tenaga kerja akibat peran yang menjadi usang karena AI.
Melihat arah tren ini, nampak jelas adanya ketegangan antara kemajuan teknologi yang cepat dan kebutuhan komunitas manusia untuk tetap fleksibel dan relevan. Otomatisasi AI yang semakin meluas membuat keamanan pekerjaan jadi semakin penting. Pekerjaan yang bersifat repetitif berisiko tinggi mengalami pengurangan, sementara peran yang berfokus pada pengembangan AI dan perencanaan strategis justru terus berkembang. Hal ini membuka peluang baru sekaligus menutup pintu bagi mereka yang tidak mau beradaptasi dengan perubahan.



