Setiap kali kita mengetik perintah di kolom chat AI: baik itu untuk riset pekerjaan, mencari ide konten, sampai mencoba prompt gambar lucu yang didapat dari media sosial, ternyata ada harga yang perlu dibayar oleh Bumi.
Berdasarkan riset dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health, rupanya ekspansi masif teknologi kecerdasan buatan ini justru jadi ancaman bagi pasokan air dan lingkungan.
Kenapa AI sangat haus?
Selain konsumsi listrik tinggi, AI ternyata juga sangat haus. Hal ini terkait dengan penggunaan data center yang merupakan infrastruktur global untuk menopang AI. Di dalam data center sendiri ada jutaan server yang bekerja tanpa henti untuk memproses miliaran data.
Nah, proses komputasi intensif ini selain mengonsumsi listrik yang diprediksi mencapai 945 terawatt-jam pada 2030, ternyata juga memerlukan air.
Pasalnya, penggunaan listrik begitu masif menghasilkan panas ekstrem. Agar server tidak jeblok atau terbakar, data center pun butuh sistem pendingin raksasa yang terus menguapkan air murni.
Riset dari University of California mengungkapkan, setiap 20 hingga 50 pertanyaan sederhana yang diajukan dalam satu interaksi dengan AI, membuat server secara tidak langsung “meminum” sekitar 500 ml air bersih.
Bagaimana dampak lingkungan karena AI?
Studi PBB memproyeksikan dampak lingkungan karena AI di tahun 2030 bakal mencapai skala yang mengkhawatirkan:
- Kebutuhan air untuk ekosistem AI diperkirakan setara dengan kebutuhan domestik 1,3 miliar manusia selama setahun.
- AI akan melahap lahan higga lebih dari 14.500 km persegi yang dipakai untuk data center, penambangan mineral dan chip, serta infrastruktur energi. PBB menyebut luas tersebut setara dengan dua kali wilayah Jabodetabek.
- Upgrade hardware untuk mendukung AI diperkirakan akan menghasilkan 2.5 juta ton sampah elektronik tiap tahunnya.
Apakah Agentic AI bakal kurangi dampak lingkungan?
Saat ini, raksasa-raksasa teknologi tengah beralih dari AI tradisional seperti chatbot dan AI generatif ke Agentic AI. Agentic AI dinilai memiliki dampak nyata untuk setiap masalah pengguna ketimbang chatbot yang hanya bisa merespon dengan teks atau gambar.
Untuk membuat Agentic AI bekerja dengan baik, perusahaan teknologi pun memindahkan pemprosesan AI dari pusat data menjadi langsung ke chip di smartphone dan laptop (dari cloud based AI menjadi on-device AI). Pertanyaannya, apakah hal ini mampu mengurangi dampak lingkungan?
Memang, sekilas ini menjadi solusi lingkungan. Tapi apakah krisis air dan lahan bisa mereda? Ternyata jawabannya, tidak. Microsoft Research mengungkapkan penggunaan Agentic AI justru menggeser adanya ancaman baru yang tak kalah mengkhawatirkannya.
Ketika Agentic AI berjalan, AI akan menetapkan tujuan, membuat perencanaan, hingga mengeksekusi berbagai tugas. Pekerjaan ini terlihat simpel tetapi proses di belakangnya begitu rumit dan butuh energi besar untuk pemrosesan jutaan data dan penalaran.
Sementara sejumlah pakar melihat rasa haus AI justru akan bergeser dari data center ke pabrik chip. Pasalnya, agar smartphone kita bisa menjalankan Agen AI secara mandiri, perangkat butuh prosesor (NPU) yang lebih canggih. Pembuatan chip canggih ini butuh jutaan liter air setiap hari untuk manufakturnya.
Ancaman sampah elektronik juga meningkat, karena miliaran perangkat yang dipakai saat ini mungkin tak akan kuat menjalankan Agentic AI masa depan. Konsumen pun seolah “dipaksa” untuk upgrade perangkat dan ini berpotensi memperparah krisis dengan 2,5 juta ton limbah elektronik per tahun.
Meski Agentic AI disebut bisa diproses on-device, kenyataannya tak bisa sepenuhnya. Tugas-tugas kompleks akan tetap diproses ke pusat data. Lagi-lagi, server akan tetap bekerja keras di balik layar, dan itu butuh energi besar serta air untuk pendingin.
Mengapa ini penting?
- Penggunaan sehari-hari AI menyumbang 80-90 persen dari total permintaan energi.
- Layanan ChatGPT memproses 2,5 miliar prompt per hari: mengonsumsi ratusan gigawatt jam listrik tiap tahun.
- Bagi AI, menghasilkan gambar butuh energi 1.000 kali lebih besar daripada perintah teks, pembuatan video butuh energi lebih besar lagi.
- Ada efek bumerang dari efisiensi AI, yakni manusia akan lebih memanfaatkannya dan ini justru membuat total kerusakan makin bertambah.
Ketimpangan global
Laporan PBB juga membahas tentang isu ekologis yang begitu timpang. Riset UNU mencatat lebih dari 90 persen kapasitas komputasi AI dikuasai Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara, lebih dari 150 negara tidak memiliki infrastruktur AI domestik.
Padahal, data center seringkali dibangun di wilayah kering atau negara-negara berkembang. Imbasnya, masyarakat lokal pun berebut akses air bersih dengan raksasa global yang ingin menjaga agar server AI tetap “dingin”.
Manfaat ekonomi pun dinikmati perusahaan teknologi. Sementara, kerusakan ekologis justru ditanggung warga lokal di sekitar data center.
Apa harus berhenti pakai AI?
Peneliti di riset UNU itu tak mengajak untuk setop menggunakan AI. Namun, mereka mengingatkan perusahaan teknologi untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab:
- Perusahaan teknologi wajib membuka data riil mengenai jejak air, jejak lahan, dan jejak karbon secara jujur.
- Perlunya pengembangan sistem pendingin yang ramah lingkungan: mulai dari air yang disirkulasikan kembali, bukan diuapkan serta pendingin non-air.
- Pemerintah perlu memperketat izin pembangunan data center agar tidak merebut area resapan air dan mengawasi rantai pasokan hardware agar mudah didaur ulang.
Pax Insight
AI memang mempermudah pekerjaan manusia, namun jika untuk membuat AI lebih pintar imbasnya adalah krisis air dan kerusakan lingkungan, artinya ada yang salah dengan inovasi. Melihat dampak lingkungan yang ditinggalkannya, sebagai pengguna teknologi, kita sepatutnya memanfaatkan AI hanya untuk hal yang bermanfaat, tak semua fitur AI yang sifatnya lucu-lucuan perlu dicoba.



