Tabrakan kapal di laut bukan hanya menimbulkan kerugian besar hingga jutaan dolar, tetapi juga mengancam nyawa awak kapal. Dilansir dari New Atlas, Texas A&M University mengembangkan sistem bernama SMART-SEA (Ship collision avoidance of Machine learning And Radar Technology for Stationary Entities and Avoidance) untuk mengurangi risiko tersebut.
Berbeda dengan sistem navigasi otomatis biasa, SMART-SEA tetap melibatkan kapten sebagai pengambil keputusan utama. Sistem ini menggunakan data radar mentah, bukan data yang sudah diproses, sehingga mampu mendeteksi objek bergerak dalam berbagai kondisi cuaca. Selain itu, AI dipakai untuk mengenali bahaya yang diam, memahami perilaku kapal, serta memperhitungkan pengaruh arus dan angin.
Kapal besar memiliki tantangan unik: jarak berhenti bisa mencapai beberapa kilometer meski mesin sudah mundur penuh. Belum lagi efek “squat” di perairan dangkal yang membuat kapal seolah tersedot ke bawah, serta ayunan buritan saat berbelok yang bisa menimbulkan tabrakan dari arah belakang. Semua faktor ini membuat navigasi laut jauh lebih rumit dibanding kendaraan di darat.
SMART-SEA menggabungkan pengalaman nyata para pelaut profesional dengan algoritma khusus untuk menilai risiko dan menentukan manuver terbaik. Sistem ini juga dirancang agar sesuai dengan aturan internasional pencegahan tabrakan di laut (COLREGs). Harapannya, kapten mendapat panduan waktu nyata sehingga kesalahan manusia bisa ditekan seminimal mungkin.
Pax Insight
SMART-SEA menunjukkan bahwa teknologi cerdas tidak selalu menggantikan manusia, tetapi justru memperkuat keputusan mereka. Dengan kombinasi radar, AI, dan pengalaman pelaut, sistem ini menjadi contoh bagaimana inovasi bisa menyelamatkan nyawa sekaligus mengurangi kerugian besar di laut.



