AI
Rabu, 24 September 2025 09:01 WIB

Surya AI: Buka prediksi cuaca Matahari

IBM dan NASA baru saja merilis Surya, sebuah foundation model AI open-source di platform Hugging Face, untuk aplikasi cuaca dan iklim antariksa.
Sumber: IBM

IBM dan NASA baru saja merilis Surya, sebuah foundation model AI open-source di platform Hugging Face, untuk aplikasi cuaca dan iklim antariksa. Dengan menyediakan akses terbuka ke model ini, kedua lembaga bertujuan mendemokratisasi data perkiraan aktivitas matahari beresolusi tinggi, sehingga mempercepat penemuan ilmiah dan memperkuat kolaborasi global dalam riset cuaca antariksa.

Surya dirancang untuk menginterpretasi citra matahari dan memprediksi fenomena berbahaya seperti suar matahari dan lontaran massa korona yang dapat merusak satelit, mengganggu navigasi GPS, memicu pemadaman listrik, serta meningkatkan risiko radiasi bagi astronot.

Studi risiko Lloyd’s memperkirakan potensi kerugian ekonomi global hingga USD 2,4 triliun dalam lima tahun akibat badai matahari, termasuk USD 17 miliar dari gangguan infrastruktur. Insiden “May Superstorm 2024” pun telah menunjukkan dampak signifikan pada layanan GPS, penerbangan, produksi pangan, dan satelit.

Secara teknis, Surya memanfaatkan data observasi Bumi selama 40 tahun terakhir dari Modern-Era Retrospective analysis for Research and Applications Version 2 (MERRA-2) milik NASA. Model ini memasuki keluarga Prithvi IBM, yang sebelumnya mencakup model geospasial dan cuaca.

Berkat arsitektur dan metode pelatihan unik, Surya mampu menangani berbagai aplikasi, mulai dari prakiraan lokal berbasis pengamatan setempat, deteksi pola cuaca ekstrem, peningkatan resolusi simulasi iklim global, hingga penyempurnaan representasi proses fisik dalam model numerik cuaca dan iklim.

Dengan diluncurkannya Surya di Hugging Face, para ilmuwan, pengembang, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia mendapat peluang untuk membangun dan menyesuaikan model ini sesuai kebutuhan wilayah maupun industri mereka.

Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia, menegaskan bahwa keterbukaan akses AI bukan sekadar inovasi, melainkan fondasi untuk meningkatkan ketahanan operasional organisasi dan kesadaran iklim di Indonesia. Kini, penelitian cuaca antariksa dan proyeksi iklim semakin inklusif dan efektif berkat kolaborasi terbuka ini.