Komunitas fotografi saat ini sudah berkembang pesat. Bahkan, komunitas fotografi smartphone saat ini semakin besar, Melihat perkembangan ini, Samsung mengungkapkan bahwa mereka akan semakin serius mengembangkan kemampuan fotografi di perangkat smartphone mereka, dengan bantuan AI.
Bahkan, Samsung mengatakan bahwa saat ini AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan teknologi inti yang mengambil alih tren industri. Dari pemrosesan gambar pasif menjadi kemampuan generatif aktif.
Kenapa Samsung fokus ke AI di kamera?
Pergeseran ini mengubah peran pengguna dari sekadar "penangkap momen" menjadi "kreator konten". Di Indonesia, di mana kebutuhan akan mengambil foto low light tetap cerah, video stabil, dan portrait natural sangat tinggi, AI Samsung bertujuan memangkas proses editing manual yang rumit.
"Lebih dari pengembangan teknologi lensa... kami berupaya menghadirkan pengalaman yang responsif melalui berbagai kecanggihan AI... agar siapa saja bisa berkreasi dengan mudah," ujar Ilham Indrawan, Senior Manager Marketing Samsung Electronics Indonesia.
Samsung membagi perjalanan inovasi kamera mereka dalam tiga era:
- Era awal, antara era Galaxy S9 sampai Galaxy S20, mereka fokus pada deteksi gerakan (Super Slow-mo) dan jangkauan (Space Zoom 100x).
- Era Vlogging, antara Galaxy S21 sampai Galaxy S22 merupakan peralihan fokus ke stabilitas video (Super Steady) dan penyempurnaan warna kulit pada mode Portrait.
- Era Generatif, antara Galaxy S23 sampai Galaxy S25, mereka memperkenalkan ProVisual Engine, mesin AI yang dilatih dengan 400 juta dataset untuk mendukung fitur Nightography dan Generative Edit.
Apa yang mereka ingin hadirkan di masa depan?
Fokus Samsung ke depan adalah On-Device AI yang memprioritaskan tiga hal, yakni :
- Kecepatan, dimana responsifitas lebih dibutuhkan untuk penggunaan real-time.
- Editing yang jauh lebih intuitif.
- Hasil foto yang beradaptasi dengan selera pengguna.
Pax insight
Meski teknologi AI di kamera penting bagi sebagian orang, namun bagi para pencinta fotografi sesungguhnya, namun kemampuan hardware, seperti lensa, sensor, dan lainnya tetap menjadi hal yang krusial. Meski kemampuan AI sudah sangat canggih, jika hardware-nya tidak mendukung, maka hasil foto yang didapatkan tidak akan memuaskan.



