Sebuah aktris digital bernama Tilly Norwood, diciptakan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan, menuai protes dari komunitas aktor Hollywood, dilansir dari Digitaltrends. Hadir pertama kali dalam iklan mode virtual, Tilly tampil sempurna tanpa butuh bayaran atau istirahat, menyoroti kekhawatiran profesional seni peran terhadap ancaman pekerjaan.
Tilly dibuat dengan memadukan ribuan rekaman wajah, gerak tubuh, dan suara berbagai aktor. Hasilnya sosok muda dengan wajah simetris, suara halus, dan gerakan ekspresif yang terus diperbarui. Perusahaan pengembang mengklaim teknologi ini dapat memangkas biaya produksi iklan hingga 70 persen, mendorong minat produser untuk menggantikan aktor nyata.
Serikat Pekerja Aktor Layar (SAG-AFTRA) segera mengeluarkan pernyataan keras. “Pengganti digital ini merendahkan nilai seni peran dan mengancam mata pencaharian puluhan ribu aktor,” kata Presiden serikat. Mereka menuntut regulasi yang membatasi penggunaan karakter buatan dalam produksi komersial.
Beberapa agensi iklan besar sempat melakukan uji coba Tilly untuk iklan fesyen dan makanan ringan. Meski mendapat respons positif atas estetika sempurna, klien khawatir kampanye akan kehilangan sentuhan manusiawi. “Masyarakat masih menghargai keaslian ekspresi manusia,” kata salah satu eksekutif agensi.
Penggunaan wajah dan suara yang digabung dari data berbagai individu menimbulkan persoalan hak cipta dan privasi. Aktivis media mendesak perusahaan penyedia teknologi untuk memastikan izin penggunaan data dan dugaan pelanggaran hak cipta penyumbang rekaman.
Sementara itu praktisi hukum menyatakan karakter digital seperti Tilly memerlukan kerangka hukum baru. Mereka merekomendasikan penggunaan label terbuka agar konsumen tahu saat melihat aktor buatan, bukan manusia asli.
Di satu sisi teknologi ini menawarkan fleksibilitas kreatif dan efisiensi biaya; di sisi lain mengancam keberlanjutan profesi aktor. Para pelaku industri kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengadopsi inovasi demi efisiensi atau mempertahankan peran manusiawi dalam karya seni dan periklanan. Keputusan regulator dan etika industri akan menentukan apakah Tilly Norwood akan menjadi fenomena singkat atau tren baru yang mengubah wajah media hiburan.



