OpenAI telah memulai penjualan kredit tambahan untuk pengguna power users dari tool generasi video AI mereka, Sora. Tambahan 10 kali generasi video akan dijual seharga USD4 atau sekitar Rp66.800, yang mereka bisa beli melalui Apple App Store.
Saat ini, OpenAI menawarkan 30 kali generasi gratis per hari, namun tingkat ini kemungkinan besar akan dikurangi seiring dengan dimulainya monetisasi resmi penawaran tersebut. Bill Peebles, kepala Sora di OpenAI, mengonfirmasi perubahan ini di X.
"Pada akhirnya kami perlu menurunkan generasi gratis untuk mengakomodasi pertumbuhan (kami tidak akan punya cukup GPU kalau tidak!), tetapi kami akan transparan saat itu terjadi," ujar Peebles. Hal ini menunjukkan adanya batasan sumber daya komputasi (GPU) yang memaksa perusahaan untuk mulai membebankan biaya lebih bagi pengguna intensif.
Dilansir dari laman Engadget (31/10), Peebles juga mengungkapkan rencana OpenAI untuk memonetisasi Sora dengan mengizinkan entitas melisensikan materi berhak cipta mereka — baik berupa karya seni, karakter, atau kemiripan (likeness) — kepada pengguna Sora.
"Kami membayangkan dunia di mana pemegang hak cipta memiliki opsi untuk mengenakan biaya ekstra untuk cameo karakter kesayangan dan orang-orang," tulisnya.
Meskipun demikian, menjadikan fitur cameo ini sebagai inti monetisasi adalah pilihan yang berani (bold), mengingat saat ini OpenAI sedang digugat oleh Cameo atas dugaan pelanggaran merek dagang. Keputusan ini menandai serangkaian tindakan yang diragukan terkait aplikasi AI text-to-video dari OpenAI tersebut.
Keputusan untuk mulai membebankan biaya dan mengurangi kuota gratis ini menandakan langkah serius OpenAI dalam mengkomersialkan Sora setelah pengujian awal yang ekstensif. Fitur cameo yang didorong oleh AI ini berpotensi menciptakan kontroversi baru terkait hak cipta dan etika penggunaan visual ikonik di dunia hiburan.
Pax Insight
Meski teknologi ini sangat menarik, namun di negara dengan literasi digital yang masih rendah, seperti di Indonesia, penggunaan generative AI dinilai cukup meresahkan. Soalnya, masih banyak pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan teknologi yang satu ini untuk membuat video hoax.
Ada baiknya pemerintah Indonesia melakukan penyaringan konten yang lebih ketat untuk meminimalisir video hoax yang dapat beredar di Indonesia. Namun ini bukan berarti mereka harus sepenuhnya memblokir teknologi tersebut, karena di sisi lain teknologi generative AI cukup membantu mereka yang dapat memanfaatkannya untuk hal positif.



