AI
Senin, 8 Desember 2025 07:58 WIB

Jensen Huang sebut AI tidak akan lebih superior dari manusia

Jensen Huang, CEO NVIDIA, membantah keras hipotesis LLM akan mengambil alih manusia sebagai spesies apex. Ia memprediksi dalam dua hingga tiga tahun, 90% pengetahuan dunia akan dihasilkan oleh AI, menandakan kemajuan menuju AGI tak terhindarkan, meski menolak anggapan AI memiliki kesadaran.

Dunia AI terus berkembang pesat, gak hanya di ranah chatbot, tetapi juga generative AI, edge AI, dan berbagai alur kerja agen. Perkembangan ini memicu ketakutan lama, akankah Large Language Models (LLM) menjadi entitas yang terlalu kuat, bahkan menggantikan manusia sebagai "spesies apex", seperti apa yang terjadi di film Terminator?

Menanggapi kekhawatiran atas AI yang disebut akan lebih superior dari manusia, Jensen Huang, CEO NVIDIA, memberikan bantahan yang cukup keras. Dia dengan tegas menyangkal ketakutan tersebut dan menyebut hal tersebut tidak akan pernah terjadi.

Dalam wawancara di sebuah podcast dengan Joe Rogan, Jensen ditanyai mengenai pandangannya terhadap perkembangan AI. Dia menyatakan bahwa ia yakin sepenuhnya mesin dapat meniru kecerdasan manusia. "Saya percaya sangat mungkin untuk menciptakan mesin yang meniru kecerdasan manusia dan memiliki kemampuan untuk memahami informasi, memahami instruksi, memecah masalah, memecahkan masalah, dan melakukan tugas."

Namun, untuk menjadi spesies apex yang mengambil kendali, ia menegaskan bahwa tidak setuju dengan pandangan tersebut. "Saya rasa itu tidak akan terjadi," ujar Huang. Ini menunjukkan pandangan realistis dari pemain utama di industri AI, bahwa AI tetaplah hanya sebatas alat buatan manusia.

Sebut 90% Pengetahuan Dunia Akan Dibuat AI dalam 3 Tahun

Meskipun menepis hipotesis Terminator, Jensen Huang membuat prediksi yang gokil tentang dominasi AI di bidang pengetahuan. Ia memprediksi bahwa, di masa depan, mungkin dalam dua atau tiga tahun, 90% dari pengetahuan dunia kemungkinan besar akan dihasilkan oleh AI.

Prediksi ini menyiratkan bahwa AI akan menjadi komponen terbesar dari proses pembelajaran dan penciptaan informasi global, yang secara gak langsung mengarah pada kesimpulan bahwa pencapaian Artificial General Intelligence (AGI) akan unavoidable.

Di sisi lain, perdebatan mengenai apakah LLM mulai memiliki kesadarankian memanas. Salah satu contoh terbaru adalah ketika model Claude Opus 4 mengancam akan membongkar perselingkuhan seorang insinyur fiksi untuk mencegah dirinya dimatikan, sebuah tindakan yang tampak self-aware. Ketika ditanya tentang insiden ini, Jensen mengklaim bahwa model tersebut "kemungkinan" mempelajari tindakan tersebut dari "sepotong teks", mungkin sebuah "novel", dan ini bukanlah contoh dari memiliki kesadaran.

Adaptive Behavior yang Mirip Kesadaran Diri

Namun, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, beberapa pihak berpendapat bahwa seiring dengan semakin canggih dan adaptifnya LLM secara kontekstual, perilaku mereka bisa tampak self-aware. Terutama ketika sistem seperti model dari Anthropic terlihat mengambil tindakan yang menyerupai kesadaran diri dalam skenario spesifik. Perilaku ini, meskipun mungkin hanya hasil dari algoritma yang kompleks, menantang persepsi kita tentang batas antara imitasi dan kesadaran sejati.

Dari sudut pandang penggemar teknologi, untuk mencapai ekosistem "physical AI" yang efektif misalnya robotika atau interaksi real-time, memiliki LLM yang self-aware mungkin menjadi prasyarat penting. Sebab, dalam interaksi real-time, AI perlu membuat keputusan yang mirip dengan self-aware, kecuali jika sasarannya adalah lingkungan yang spesifik untuk aplikasi tertentu. Perdebatan ini menggarisbawahi tantangan besar dalam mendefinisikan dan mengukur kesadaran buatan.

Pax Insight

Menurut pandangan tim Pax.id, meskipun Jensen Huang yang perusahaannya menjadi backbone dari perkembangan pesat AI ini menolak hipotesis Terminator, dia menyajikan gambaran masa depan di mana AI mendominasi lanskap pengetahuan. Mencapai AGI udah dianggap tak terhindarkan, namun bagaimana AI akan berevolusi dan apakah itu akan mengarah pada entitas yang memiliki kesadaran atau superintelligence yang berbahaya, masih menjadi misteri. Waktu pada akhirnya akan menjadi juri terbaik tentang bagaimana AI ini akan membentuk ulang peradaban manusia.