Di tahun 2025, tren perusahaan teknologi beralih menjadi "AI-first" semakin marak. Fiverr, platform gig economy, mengumumkan telah mem-PHK 250 karyawannya karena berencana untuk menjadi "perusahaan AI-first".
Langkah ini memengaruhi sekitar 30% staf perusahaan, dan merupakan hal yang tidak asing di kalangan perusahaan teknologi tahun ini. Sebelumnya, Duolingo juga mengumumkan rencana serupa pada April untuk menjadi "AI-first".
Dalam sebuah esai di X, CEO Fiverr, Micha Kaufman menyebut proses ini sebagai kembali ke "mode startup". Tujuannya adalah mengubah Fiverr menjadi "perusahaan AI-first yang lebih ramping, lebih cepat, dengan infrastruktur teknologi modern yang berfokus pada AI, tim yang lebih kecil, dan lapisan manajemen yang jauh lebih sedikit".
Kaufman mengatakan bahwa Fiverr tidak "membutuhkan banyak orang untuk mengoperasikan bisnis yang ada". Hal ini karena perusahaan sudah mengintegrasikan AI ke dalam program dukungan pelanggan dan deteksi penipuannya.
Komentar CEO yang Kontradiktif
Petunjuk pertama bahwa Fiverr akan membenarkan PHK dengan alasan AI muncul saat Kaufman diwawancarai oleh CBS News pada Mei 2025. Saat itu, ia secara khusus menyarankan karyawan untuk "mengotomatiskan 100 persen" pekerjaan mereka dengan AI.
Namun, ia juga mengklaim bahwa hal itu tidak akan membuat mereka tergantikan karena mereka masih mampu melakukan "pemikiran non-linear" dan "penilaian". Saran tersebut tampaknya tidak membantu para karyawan Fiverr sendiri.
Pemangkasan karyawan di Fiverr ini memang lebih sedikit daripada perusahaan besar seperti Workday, yang mengumumkan rencana untuk memberhentikan 1.750 karyawan pada Februari 2025. Namun, terlepas dari ukuran perusahaan atau tingkat investasinya dalam AI, PHK memiliki efek yang sama, yaitu lebih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh lebih sedikit orang.



