Pentingnya peran seorang CEO visioner dalam pertumbuhan perusahaan memang tidak bisa dimungkiri. Salah satu contohnya adalah Apple, yang kini dipimpin oleh Tim Cook, dan menunjukkan perkembangan bisnis yang cukup baik.
Tapi, di balik kesuksesan Apple, ada sosok yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun, setidaknya hingga saat ini. Bahkan, ada banyak kisah legendaris antara Apple dan Steve Jobs, terutama apa yang terjadi pada tanggal 16 September 1996.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Steve Jobs dan Steve Wozniak mendirikan Apple di sebuah garasi pada tahun 1976. Namun, kisah perjalanan Jobs di perusahaan ini tidak selalu mulus. Pada tahun 1985, Jobs berada dalam posisi yang sulit di Apple, karena persaingan sengit dengan mantan CEO PepsiCo, John Sculley. Sculley akhirnya memenangkan persaingan tersebut, dan Jobs dipecat dari divisi Macintosh yang sangat disayanginya.
Jobs, yang dipenuhi amarah dan rasa malu, membawa kasusnya ke dewan direksi Apple dan menyampaikan omelan pedas. Apa yang terjadi setelah itu masih menjadi perdebatan. Jobs bersikeras bahwa ia dipecat oleh dewan direksi, sementara Sculley menegaskan bahwa Jobs mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.
Setelah hengkang dari Apple, Jobs mendirikan NeXT, sebuah perusahaan produsen komputer kelas atas. Namun, pada tahun 1996, NeXT mengalami kesulitan setelah gagal menjual perusahaannya. Akhirnya, Apple mengakuisisi perusahaan Jobs, membawanya kembali berkiprah. Tanggal kembalinya Jobs ini sangat legendaris, yaitu 16 September.
Setelah CEO Apple saat itu, Gil Amelio, menyebabkan harga saham perusahaan anjlok karena aksi likuidasi saham yang besar-besaran, dewan direksi menggantinya dengan Jobs. Pergantian ini memungkinkan visi Jobs terwujud selama satu dekade berikutnya, yang berpuncak pada peluncuran iPhone yang ikonis pada tahun 2007.
Tim Cook: Sukses Finansial di Era Baru
Tim Cook mengambil alih jabatan CEO setelah Steve Jobs mengundurkan diri karena masalah kesehatan pada tahun 2011. Sejak saat itu, Apple telah mencatat kesuksesan yang luar biasa di pasar saham, dengan keuntungan lebih dari 1.500% sejak September 2011.
Meskipun sukses di pasar saham, Apple tampak stagnan dalam beberapa aspek lain di bawah kepemimpinan Tim Cook. Sebagai contoh, volume pengiriman tahunan iPhone sejak 2015 berfluktuasi antara 200 juta hingga sedikit di bawah 250 juta unit. Walaupun divisi layanan Apple telah tumbuh pesat, produk utamanya, iPhone, tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam hal volume.
Isu AI dan Perdebatan Strategi
Saat ini, Apple berinvestasi besar pada AI, tapi banyak pihak melihatnya tertinggal di belakang para pesaing. Pada saat yang sama, Apple menganggarkan USD100 miliar, atau sekitar Rp1,64 triliun, untuk pembelian kembali saham di tahun 2025 saja.
Angka ini memicu pertanyaan, apakah Steve Jobs akan menyetujui langkah pengembalian dana sebesar itu kepada para pemegang saham di tengah kondisi AI yang krusial seperti sekarang?
Persepsi bahwa Tim Cook adalah pemimpin yang kurang karismatik mungkin beralasan. Di sisi lain, hal itu tidak membuat kesuksesannya di pasar saham menjadi tidak berarti.



