Dalam forum ekonomi global baru-baru ini, Demis Hassabis, CEO Google DeepMind sekaligus peraih Nobel, memberikan pandangan yang memukau mengenai lintasan teknologi kecerdasan buatan (AI). Hassabis menegaskan bahwa kita tidak sekadar menghadapi tren teknologi biasa, melainkan sebuah pergeseran fundamental yang kecepatannya jauh melampaui sejarah manusia sebelumnya.
Kecepatan dan skala yang belum pernah ada
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Hassabis membandingkan dampak AI dengan Revolusi Industri, namun dengan skala yang jauh lebih ekstrem. Ia memperkirakan transformasi ini akan sepuluh kali lebih besar dan sepuluh kali lebih cepat daripada revolusi yang terjadi di abad ke-18 tersebut.
"Ini akan menjadi 10 kali lebih besar dan 10 kali lebih cepat daripada Revolusi Industri. Secara kumulatif, ini adalah dampak 100 kali lipat," kata Hassabis.
Kecepatan ini menuntut adaptasi manusia yang luar biasa. Jika Revolusi Industri membutuhkan satu atau dua generasi untuk mengubah tatanan masyarakat, revolusi AI terjadi dalam hitungan tahun. Meski demikian, Hassabis tetap optimis terhadap kemampuan adaptasi manusia, mengingat otak manusia dirancang untuk menjadi "pembelajar umum" yang sangat fleksibel.
Menuju AGI dan dunia pasca-kelangkaan
Salah satu topik utama dalam diskusi tersebut adalah Artificial General Intelligence (AGI), titik di mana AI memiliki kemampuan kognitif setara manusia. Hassabis tetap pada prediksinya bahwa AGI memiliki peluang 50% untuk tercapai pada tahun 2030.
Namun, baginya AGI hanyalah batu loncatan menuju visi yang lebih besar: dunia pasca-kelangkaan. Dengan bantuan AI, masalah-masalah mendasar manusia seperti energi bersih yang tak terbatas (melalui fusi nuklir) dan penemuan material baru dapat segera terpecahkan.
"Setelah kita membangun AGI dengan benar, kita akan berada di dunia pasca-kelangkaan di mana kita telah memecahkan node akar fundamental dunia, seperti sumber energi baru yang bersih dan terbarukan," jelasnya.
Tantangan pekerjaan dan disrupsi ekonomi
Meski menjanjikan kelimpahan, masa transisi menuju dunia tersebut tidaklah mudah. Hassabis mengakui adanya potensi disrupsi besar pada pasar kerja, terutama untuk pekerjaan kerah putih tingkat pemula. Namun, ia menekankan bahwa sistem AI saat ini masih memiliki "kecerdasan yang bergerigi" (jagged intelligences), sangat mahir dalam satu hal, namun sangat lemah dalam hal lain.
Untuk mencapai tahap di mana tugas dapat sepenuhnya didelegasikan kepada AI, diperlukan konsistensi yang lebih tinggi. Ia menyarankan generasi muda untuk mulai menguasai alat-alat ini sebagai "kekuatan super" pribadi agar tetap relevan dan kompetitif.
Kolaborasi internasional dan keamanan
Mengingat taruhannya yang sangat tinggi, Hassabis menyerukan perlunya kolaborasi internasional yang mirip dengan CERN (organisasi riset nuklir Eropa) untuk AI. Ia bermimpi adanya wadah di mana ilmuwan terbaik, filsuf, dan sosiolog dunia bekerja sama untuk memastikan AGI menguntungkan seluruh umat manusia.
"Sangat disayangkan, ini membutuhkan kolaborasi internasional... seluruh dunia harus menyetujui standar minimum jika kita ingin memiliki pendekatan ilmiah yang ketat menuju langkah-langkah akhir AGI," tegas Hassabis.
AI sebagai alat sains terakhir
Sebagai seorang ilmuwan, gairah utama Hassabis tetap pada eksplorasi ilmiah. Baginya, AI adalah alat pamungkas untuk mengungkap misteri alam semesta, mulai dari struktur realitas hingga hakikat kesadaran. Ia memandang AI bukan sebagai pengganti manusia, melainkan versi mikroskop atau teleskop yang jauh lebih canggih.
Di akhir wawancara, Hassabis memberikan pesan kuat bagi para pemimpin bisnis dan orang tua: hal terpenting di era ini bukanlah mempelajari keterampilan teknis yang spesifik, melainkan "belajar cara untuk belajar". Kemampuan untuk menyerap informasi baru dan beradaptasi dengan situasi yang terus berubah akan menjadi aset paling berharga di masa depan yang didorong oleh AI.
Pax insight
Demis Hassabis memandang AI bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan katalisator perubahan peradaban yang mampu membawa umat manusia ke era kelimpahan pasca-kelangkaan melalui solusi energi bersih dan terobosan sains. Meskipun transisi ini menjanjikan potensi luar biasa, Hassabis menekankan pentingnya kolaborasi global yang ketat dan adaptabilitas individu sebagai kunci untuk menavigasi disrupsi ekonomi serta memastikan bahwa AGI nantinya tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.



