Ulas
Kamis, 22 Januari 2026 01:10 WIB

AI di smartphone, adu visi antara Samsung dan OpenAI

Apakah AI membutuhkan "hub", atau justru ingin membebaskan kita darinya?

Samsung yakin AI justru mengokohkan smartphone sebagai pusat ekosistem, sementara OpenAI bersama desainer legendaris Jony Ive mulai membayangkan masa depan di luar layar dan bahkan di luar smartphone. Apakah AI membutuhkan "hub", atau justru ingin membebaskan kita darinya?

Kenapa pertanyaan ini penting?

Tahun 2026 akan menandai perpecahan strategi paling penting di industri teknologi konsumen. Satu kubu menguatkan smartphone sebagai pusat AI. Kubu lain merancang perangkat AI-native baru yang tidak lagi berwujud ponsel. Ini bukan debat desain semata, tetapi debat tentang bagaimana manusia akan berinteraksi dengan mesin.

  • Pandangan Samsung: Smartphone sebagai pusat kendali AI. Menurut TM Roh, AI tidak membuat smartphone usang, tetapi yang berubah adalah perannya. "Yang berubah bukanlah relevansi smartphone, melainkan sifat kecerdasannya. Antarmuka yang paling berguna kini bukan lagi layar yang disentuh dan digeser; kecerdasan itu sendiri telah menjadi UI."

Dengan kata lain, bagi Samsung:

  • AI membutuhkan hub personal yang selalu bersama pengguna.
  • Smartphone unggul karena memahami konteks, kebiasaan, dan pola harian.
  • Wearables, ring, dan extended reality (XR) tetap bergantung pada smartphone sebagai pengatur utama.

Roh mencontohkan, produk seperti Galaxy S24 dan Galaxy S25 sebagai bukti bahwa AI on-device dan hardware canggih masih menjadi tulang punggung pengalaman personal.

Pandangan lain: OpenAI dan Jony Ive ingin membawa kita berinteraksi dengan AI melampaui smartphone  OpenAI bekerja sama dengan Jony Ive untuk merancang perangkat AI generasi baru yang secara eksplisit tidak berangkat dari paradigma smartphone.

Kita bisa menyimpulkan, sejauh ini, dari pernyataan publik CEO OpenAI Sam Altman dan Jony Ive:

  • AI tidak harus hidup di layar.
  • Interaksi ideal adalah ambient, voice-first, dan hampir tak terlihat.
  • Smartphone dianggap artefak transisi, bukan pusat masa depan.

Dalam logika ini, AI justru bekerja paling baik saat menghilang dari genggaman, bukan dipusatkan di satu perangkat.

Apa artinya buat kita?

Samsung bermain defensif sekaligus ofensif dengan mempertahankan dominasi smartphone sambil menyerap AI ke semua form factor. Di sisi lain, OpenAI–Ive bermain disruptif: jika berhasil, mereka bukan hanya menantang Samsung, tapi seluruh industri ponsel. Tentu kedua pandangan ini tidak saling meniadakan, tetapi pasti akan ada yang harus mengubah strategi.

Pax Insight

Samsung bertaruh bahwa AI butuh pusat kendali, dan smartphone adalah kandidat paling realistis. OpenAI bertaruh sebaliknya: AI justru akan memutus ketergantungan kita pada satu perangkat utama. Pertanyaannya bukan siapa yang benar, melainkan berapa lama smartphone masih memegang peran sentral sebelum AI menemukan bentuk barunya sendiri.