Vatikan resmi ikut “turun gunung” ke dunia AI. Kini, para jemaat yang menghadiri Misa di Papal Basilica of Saint Peter bisa menikmati layanan terjemahan langsung berbasis AI, baik dalam bentuk teks maupun audio.
Kenapa ini penting?
Langkah Vatikan menghadirkan terjemahan live berbasis AI bukan sekadar fitur baru, tapi sinyal kuat bahwa teknologi ini sudah masuk ke ruang paling tradisional sekalipun. Dengan jutaan jemaat dari berbagai negara datang ke Basilika Santo Petrus, layanan ini membuat misa terasa lebih inklusif dan mudah dipahami tanpa hambatan bahasa, sekaligus membuktikan AI bisa dipakai untuk pelayanan publik, bukan cuma urusan industri atau hiburan.
Apa kata mereka?
“Selama berabad-abad, Basilika Santo Petrus menyambut umat dari setiap bangsa dan bahasa. Dengan menghadirkan alat yang membantu banyak orang memahami kata-kata liturgi, kami ingin melayani misi Gereja yang universal,” - Kardinal Mauro Gambetti, Archpriest Basilika Santo Petrus.
Ia juga menyebut kolaborasi ini sebagai langkah yang dilakukan dengan kehati-hatian, namun tetap optimis bahwa inovasi manusia dapat menjadi sarana persatuan jika dipandu oleh iman.
Cara kerja layanan
Untuk cara mengaksesnya cukup simpel, dengan cara berikut ini:
- Pengunjung cukup memindai QR code
- Langsung diarahkan ke halaman web untuk mengakses terjemahan live
- Tak perlu mengunduh aplikasi tambahan
Teknologi ini berbasis pada Lara, AI translation tool yang diluncurkan Translated pada 2024. Perusahaan tersebut mengklaim Lara bekerja dengan “sensitivitas” yang mengacu pada pengalaman lebih dari 500 ribu penerjemah profesional native speaker.
Pax Insight
Langkah Vatikan ini menunjukkan bahwa AI kini tidak lagi hanya dipakai untuk kebutuhan industri teknologi atau bisnis, tetapi juga mulai masuk ke ranah spiritual dan pelayanan umat. Jika teknologi seperti ini terbukti efektif, bukan tidak mungkin konsep serupa akan diterapkan di tempat ibadah global lainnya, terutama di lokasi yang menjadi pusat pertemuan jemaat internasional.



