Hibura
Jumat, 12 Desember 2025 20:12 WIB

Tencnet pecah rekor, berhasil raih pendapatan 166,5 triliun rupiah

Pada akhirnya Tencent memecahkan rekor mereka, menghasilkan pendapatan Rp166,5 triliun di 2025.

Selama bertahun-tahun, Tencent udah menempatkan investasi secara masif di seluruh industri video game, mengakuisisi saham di berbagai perusahaan, dan bahkan mengakuisisi beberapa di antaranya secara penuh. Ini adalah strategi slow-burning yang terbukti membuahkan hasil, dibuktikan dalam laporan Bloomberg terbaru.

CEO Tencent, Michelle Liu, mengungkapkan metodologi yang membantu Tencent menghasilkan pendapatan USD10 miliar atau sekitar Rp166,5 triliun selama setahun terakhir. Tentu saja, pencapaian ini menjadi sebuah rekor penjualan yang gargantuan dan bikin perusahaan lain gak bisa ngikutin.

Pendekatan Nggak Biasa: Guidance Data dan Benchmarking Jadi Kunci

Alih-alih mengendalikan penuh, laporan tersebut menyoroti pendekatan unik Tencent dalam menjalin hubungan dengan studio yang diakuisisi. Liu mengklaim, "Jika mereka udah bisa mencapai segalanya sendiri, untuk apa mereka butuh saya?" Pendekatan ini fokus pada pemberian panduan terstruktur. Tencent membantu dengan analisis data yang luas, benchmarks, dan kriteria yang terukur. Pengalaman Tencent ini jelas menguntungkan para mitranya, dan pendekatan ini diakui berhasil.

Developer Funcom (Dune: Awakening) dan Techland (Dying Light: The Beast) disebutkan secara spesifik sebagai studio yang mendapat manfaat dari panduan Liu dan Tencent. CEO Funcom, Rui Casais, mengenang saat Tencent datang dan berkata, "Anda menyebar perhatian Anda. Anda punya IP hebat yang sudah diamankan, Anda harus benar-benar fokus pada itu dan drop hal-hal lain." Panduan untuk fokus pada IP inti ini ternyata beneran ngasih impact besar.

Dune: Awakening dan Dying Light: The Beast Pecahkan Rekor Penjualan

Dampak nyata dari strategi guidance ini terlihat dari performa penjualan. Meskipun Funcom gak bisa menghindari layoff, Dune: Awakening tercatat menjadi peluncuran terbesar dalam sejarah studio tersebut. Sementara itu, Techland berhasil menjual lebih dari satu juta kopi Dying Light: The Beast saat peluncuran di Steam saja, belum termasuk pemain yang mendapatkannya gratis dalam bundle Dying Light 2: Stay Human. Ini adalah bukti cuan yang gak main-main.

Dilansir dari laman Wccftech (12/12), pendiri Techland, Pawel Marchewka, mengonfirmasi manfaat dari panduan Tencent, mengatakan bahwa mereka selalu bisa mengandalkan "extra point of view yang membantu kami untuk improve game." Keahlian Tencent dalam analisis data dan benchmarks global memberikan wawasan yang mungkin gak dimiliki studio lokal, membantu mereka mengoptimalkan produk dan strategi pasar.

Laporan tersebut juga menyertakan chart yang menunjukkan betapa jauh lebih besar Tencent dibandingkan publisher dan platform game utama lainnya, bahkan jika dibandingkan dengan Roblox yang udah memecahkan rekor jumlah pemain bersamaan. Skala operasi dan jangkauan Tencent ini menjadi leverage kuat yang mereka tawarkan kepada studio yang bergabung dalam ekosistem mereka.

Meskipun kesuksesan ini harus dikreditkan kepada tim developer yang bekerja keras di belakang game tersebut, poin Liu tetep relevan: Tencent udah membuktikan bahwa mereka mampu mengarahkan tim menuju kesuksesan. Tantangan berikutnya adalah melihat apakah strategi ini akan terus berhasil dalam usaha baru mereka bersama Ubisoft dan Vantage Studios. Namun, pendapatan USD10 miliar atau sekitar Rp166,5 triliun adalah angka yang gak bisa diabaikan, menegaskan dominasi Tencent di panggung gaming global.