Microsoft kembali mengguncang komunitas gaming setelah menaikkan harga Xbox Game Pass sebesar 50% minggu lalu. Kini, sebuah rumor baru dari insider SneakersSO mengklaim bahwa strategi perusahaan mungkin bergeser ke tingkat yang jauh lebih ekstrem dari yang dibayangkan: meninggalkan bisnis hardware konsol sepenuhnya.
Kabar ini datang di saat yang kritis, karena waktu untuk memulai manufaktur konsol Xbox berikutnya sudah semakin dekat, yaitu sekitar tahun 2026. Menurut leaker yang sebelumnya membocorkan rencana porting gim Xbox ke konsol lain, rencana konkret untuk memproduksi hardware Xbox berikutnya tiba-tiba menjadi "di atas angin".
Hal ini membingungkan, mengingat waktu peluncuran yang diperkirakan pada tahun 2027 sudah semakin dekat. Sumber menyebutkan bahwa langkah-langkah penting yang biasanya dilakukan menjelang peluncuran konsol baru tidak terpenuhi. Bahkan, Senior Editor The Verge, Tom Warren, mengakui bahwa leaker ini "tahu banyak tentang apa yang terjadi di internal Microsoft".
Inti dari pergeseran ini adalah Microsoft akan "menarik langkah ala SEGA", dimana mereka keluar dari pasar konsol, seperti dikutip dari laman Wccftech (6/10). Masa depan Xbox akan sepenuhnya berfokus pada software publishing. Strategi ini akan menekankan pada IP yang sangat menguntungkan, seperti Call of Duty, World of Warcraft, Minecraft, Candy Crush, dan Forza Horizon.
Dalam skema baru ini, Cloud gaming akan menjadi "rumah" dari platform Xbox. Game Pass akan bertransisi menjadi langganan akses utama ke xCloud. Langkah ini diperkirakan akan mendorong kenaikan harga Game Pass di masa depan. Pergeseran fokus ini didukung konteks finansial yang logis: penjualan hardware Xbox telah menurun selama bertahun-tahun.
Selain itu, laporan menyebutkan bahwa Microsoft telah mengorbankan lebih dari US$300 juta atau sekitar Rp4,97 triliun dari potensi penjualan Call of Duty tahun lalu dengan memasukkan franchise tersebut ke Game Pass pada hari pertama rilis. Namun menariknya, rumor ini berlawanan total dengan janji resmi Microsoft kepada para penggemarnya.
Kurang dari empat bulan lalu, Microsoft menandatangani kemitraan multi-tahun dengan AMD untuk bersama-sama mengembangkan silicon bagi perangkat generasi berikutnya, termasuk konsol, handheld, dan cloud. Presiden Xbox bahkan mengklaim bahwa konsol berikutnya akan membawa "lompatan teknis terbesar yang pernah ada" antar-generasi.
Secara hukum, Microsoft bisa saja menegosiasikan ulang perjanjian dengan AMD untuk mengecualikan bagian konsol. Namun, penggemar Xbox jelas tidak akan menerima kabar ini dengan baik, apalagi jika itu berarti mereka kehilangan akses ke seluruh library game mereka melalui backward compatibility.
Merespons rumor yang beredar, Microsoft merilis pernyataan resmi yang menegaskan, “Kami secara aktif berinvestasi pada konsol first-party dan perangkat di masa depan yang dirancang, direkayasa, dan dibangun oleh Xbox”. Pernyataan ini merujuk pada perjanjian AMD yang mencakup co-engineer silicon untuk konsol generasi berikutnya.
Meskipun demikian, fakta bahwa rumor hardware exit ini terdengar begitu meyakinkan bagi banyak pihak menunjukkan masalah yang lebih besar. Hal ini menggarisbawahi adanya disconnect mendalam antara Microsoft dan bagaimana komunitas gaming memandang masa depan platform Xbox.
Hingga ada pembatalan resmi, rencana hardware Xbox secara teknis masih berlanjut. Namun, keputusan Microsoft yang memprioritaskan software dan layanan cloud di atas hardware tradisional telah menempatkan masa depan merek tersebut di persimpangan jalan.



