Berdasarkan dokumen publik dari pemerintah Inggris, Rockstar North tercatat menghabiskan sekitar USD2,72 miliar atau sekitar Rp42,19 triliun murni untuk biaya pegawai, seperti gaji, jaminan sosial, pensiun, dll selama periode 2019–2025. Jika digabungkan dengan biaya operasional dari berbagai studio Rockstar lainnya di seluruh dunia serta kampanye pemasaran global, total anggaran GTA 6 diprediksi dapat menyentuh angka USD4 hingga USD5 miliar atau sekitar Rp62 triliun hingga Rp77,5 triliun.
Kenapa ini penting?
Angka perkiraan ini menjadikan GTA 6 berada di jalur yang tepat untuk menjadi produk hiburan termahal yang pernah diproduksi dalam sejarah. Sebagai gambaran, biaya rata-rata pembuatan gim kelas AAA modern saat ini hanya berkisar di angka Rp4,65 triliun ($300 juta). Meski nilai investasinya luar biasa masif, Rockstar diproyeksikan mampu balik modal hanya dalam hitungan hari setelah peluncuran berkat hype yang tak tertandingi.
Apa saja detailnya?
- Fokus Terpecah: Pengeluaran di studio Rockstar North (Edinburgh) tersebut tidak sepenuhnya eksklusif untuk GTA 6. Selama periode yang sama, para pengembang juga masih memelihara GTA Online dan Red Dead Online.
- Mesin Pencetak Uang Baru: Sebagian besar keuntungan jangka panjang pascarilis kemungkinan besar akan kembali didorong oleh mode online, yang dirumorkan akan mengusung elemen menyerupai MMORPG.
- Tantangan Internal: Menjelang target rilis pada 19 November 2026, Rockstar diwarnai sejumlah isu internal. Mulai dari insiden pemecatan karyawan yang diklaim oleh pekerja sebagai respons atas upaya pembentukan serikat pekerja, bukan sekadar masalah kebocoran data hingga kecelakaan ledakan ruang ketel di kantor Rockstar North yang beruntungnya tidak memakan korban luka.
Pax insight
Rockstar Games beroperasi di tingkat skala finansial yang tidak bisa disamakan dengan studio mana pun di industri ini. Pendekatan anggaran "tanpa batas" ini merupakan pertaruhan yang sangat terukur untuk memastikan GTA 6 mampu memenuhi ekspektasi masif dari audiens global.



