Gawai
Sabtu, 14 Maret 2026 08:07 WIB

Xiaomi hadirkan warisan Leica lewat Leica Leitzphone

Melalui Leica Leitzphone yang didasarkan dari Xiaomi 17 Ultra, Xiaomi hadirkan warisan Leica.

Xiaomi dan Leica meningkatkan level kolaborasi mereka melalui model Strategic Co-creation dengan merilis Leica Leitzphone powered by Xiaomi. Perangkat ini bukan sekadar ponsel dengan kamera bermerek, melainkan alat fotografi profesional dalam format mobile yang dirancang untuk menghidupkan filosofi visual legendaris Leica.

Kenapa ini penting?

Di tengah tren premiumisasi perangkat imaging, perangkat ini hadir sebagai simbol eksklusivitas di Indonesia. Dengan keterlibatan Leica dari hulu ke hilir, Leitzphone menawarkan kualitas craftsmanship dan karakter visual (seperti kedalaman dan presisi) yang sebelumnya hanya ditemukan pada kamera profesional seri M Leica.

Apa saja detailnya?

  • Filosofi Visual & Karakter : Dilengkapi dengan 13 Leica Looks dan 5 preset efek bokeh legendaris untuk menangkap foto portrait serta human interest yang emosional dan autentik.
  • Teknologi Sensor & HDR : Menggunakan teknologi LOFIC HDR revolusioner yang mampu menjaga gradasi warna halus dan menyingkap detail di area gelap tanpa overexposure di area terang—sangat ideal untuk street photography.
  • Desain Ikonik & Taktil : Mengusung estetika Industrial Design yang solid dengan Leica Camera Ring. Fitur ini memungkinkan pengguna mengatur focal length dan fokus secara manual, memberikan sensasi mekanis layaknya lensa profesional.
  • Leica UltraPure Optical Design : Desain optik tingkat tinggi yang meminimalisir distraksi visual dan memaksimalkan ketajaman untuk memotret lanskap maupun arsitektur dengan detail yang hidup.
  • Mode Klasik : Menghadirkan karakter visual dari kamera ikonik Leica M3 dan M9 dalam genggaman yang ringkas.

Pax insight

Leica Leitzphone powered by Xiaomi hadir dalam jumlah terbatas di Indonesia, menargetkan para fotografer ternama dan pencinta seni yang menghargai esensi cahaya, emosi, dan cerita. Perangkat ini memposisikan diri bukan sebagai alat komunikasi biasa, melainkan instrumen kreativitas ultra-premium.