Gawai
Jumat, 17 Juli 2026 21:03 WIB

Waspada! Simpan data di smartphone bisa berujung bahaya

Kini semakin banyak orang menyimpan data penting di smartphone. Ini dia bahayanya dan apa yang harus dilakukan

Lanskap pemanfaatan teknologi informasi di kawasan Asia Pasifik resmi mengalami pergeseran paradigma yang sangat drastis. Berdasarkan data riset terbaru dari perusahaan keamanan siber global Kaspersky, fungsi komputer personal PC kini telah tergeser menjadi perangkat sekunder setelah hampir tiga perempat masyarakat memilih ponsel pintar sebagai gerbang utama mereka untuk berselancar di internet. Fenomena ini tercatat paling masif terjadi di Indonesia, di mana sebanyak 77 persen responden mengaku sangat bergantung pada ponsel pintar untuk menunjang aktivitas digital harian mereka.

Masih mudahnya smartphone dibobol peretas

Meskipun volume dan tingkat sensitivitas data yang bermigrasi ke dalam smartphone meroket tajam, kebiasaan proteksi siber pengguna dinilai tidak berjalan selaras dengan tren tersebut. Masyarakat secara otomatis selalu memasang perangkat lunak pelindung pada komputer mereka namun cenderung membiarkan pendamping digital di saku mereka tanpa benteng pertahanan. Pakar keamanan siber Kaspersky memperingatkan bahwa kecerobohan ini menjadi bom waktu yang sangat berbahaya, mengingat hilangnya kendali atas ponsel pintar saat ini sama saja dengan kehilangan akses ke seluruh privasi kehidupan digital pengguna.

Apa saja detailnya?

Tiga Langkah Taktis Panduan Proteksi Siber dari Pakar Kaspersky

  • Pemanfaatan Brankas Digital Lintas Gawai: Pakar keamanan siber Kaspersky Anton Kivva menegaskan bahwa ponsel pintar seharusnya tidak boleh menjadi satu-satunya tempat penyimpanan tunggal untuk dokumen sensitif. Informasi penting seperti kartu identitas, paspor, atau detail perbankan wajib diamankan menggunakan aplikasi pengelola sandi khusus seperti Kaspersky Password Manager. Aplikasi ini menyediakan fitur brankas rahasia terenkripsi yang mendukung sinkronisasi lintas perangkat agar data tetap bisa diakses dari gawai mana pun secara aman.
  • Pemasangan Perisai AI Pemindai Phishing: Perangkat seluler membutuhkan standardisasi sistem keamanan yang setara dengan PC. Kaspersky merekomendasikan instalasi solusi antivirus yang memiliki kemampuan memindai aplikasi baru secara otomatis saat proses instalasi berjalan. Penggunaan fitur canggih berbasis kecerdasan buatan AI juga sangat krusial untuk memblokir penyebaran tautan link berbahaya serta mendeteksi serangan phishing secara seketika real-time guna mencegah kerugian finansial.

Protokol Rencana Cadangan untuk Mitigasi Kehilangan Fisik Ponsel

  • Otomasi Penguncian Layar Instan: Guna mengantisipasi skenario terburuk seperti aksi pencurian di ruang publik, pengguna diwajibkan untuk mengaktifkan fitur penguncian layar otomatis secara instan sesaat setelah layar mati. Langkah taktis ini sangat efektif untuk menutup celah akses bagi para penjahat siber yang mencoba mengintip isi ponsel saat pengguna lengah. Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga keamanan fisik gawai dengan tidak menaruh ponsel di saku belakang celana atau membiarkannya tergeletak di atas meja tanpa pengawasan.
  • Penghapusan Data Jarak Jauh: Penyelamatan data cadangan Plan B wajib disiapkan melalui pengaktifan fitur layanan lokasi bawaan pada sistem operasi Android maupun iOS. Pengguna Android dapat memanfaatkan fitur Where is My Device di dalam aplikasi Kaspersky untuk melacak koordinat posisi gawai yang hilang sekaligus mengeksekusi perintah penghapusan seluruh data internal secara jarak jauh dari komputer guna memutus potensi pemerasan data.

Pax insight

Hasil survei Kaspersky di pertengahan bulan Juli 2026 ini memberikan tamparan keras bagi industri digital bahwa ancaman peretasan terbesar saat ini justru mengintai dari dalam saku pakaian kita. Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Adrian Hia, mempertegas bahwa hubungan manusia dengan ponsel pintar telah berubah secara fundamental menjadi wadah pengelola memori, keuangan, hingga pekerjaan harian. Selama kesadaran masyarakat untuk melakukan pencadangan data berkala serta memverifikasi tautan link sebelum mengetuk layar masih rendah, maka ekosistem ponsel pintar di Indonesia akan tetap menjadi target empuk paling menjanjikan bagi para pelaku kejahatan siber global.

Apa selanjutnya?

Melihat data Kaspersky yang menunjukkan bahwa hampir separuh responden Indonesia menyimpan kata sandi dan email pekerjaan langsung di dalam ponsel tanpa perlindungan siber yang kuat, apakah Anda sudah merasa cukup aman dengan sistem keamanan bawaan ponsel Anda saat ini atau berencana mulai memperketatnya dengan aplikasi pengelola sandi khusus dalam waktu dekat?