vivo selama beberapa tahun terakhir in telah menujukkan keseriusan mereka dalam membuat smartphone yang memiliki kamera terbaik. Hal ini dipertegas dengan akan segera diluncurkannya vivo X300 Ultra, setelah sebelumnya meluncurkan X300 Dan X300 Pro di seluruh dunia.
Smartphone ini dirumorkan ditenagai chip Snapdragon 8 Elite Gen 5, yang merupakan salah satu chip paling kuat di tahun tersebut, menegaskan posisinya sebagai penantang serius di pasar flagship premium. Tapi, sorotan utama dari X300 Ultra gak lain adalah kameranya.
Pakai Dua Kamera 200MP
Perangkat ini diharapkan memiliki sepasang lensa 200MP, satu untuk fungsi wide (utama) dan satu lagi untuk tugas telephoto periskop, bersamaan dengan unit ultrawide 50MP. Konfigurasi kamera ekstrem ini menunjukkan ambisi Vivo untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan reputasinya sebagai salah satu brand dengan inovasi kamera mobile terbaik.
Namun, X300 Ultra mungkin bukan satu-satunya produk imaging yang direncanakan Vivo untuk tahun depan. Menurut tipster terkemuka, Digital Chat Station di Weibo, Vivo juga sedang mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan kamera, tapi bukan di smartphone.
Bikin Kamera Action
vivo dikabarkan tengah mengembangkan kamera aksi standalone. Perangkat ini dijadwalkan secara tentatif untuk diluncurkan pada paruh pertama 2026. Ada kemungkinan besar kamera aksi ini akan debut bersamaan dengan X300 Ultra, meskipun tipster tersebut menahan diri untuk membagikan spesifikasi teknisnya, seperti dilansir dari laman Gizmochina (15/12).
Langkah vivo memasuki pasar kamera aksi sebenarnya gak sepenuhnya aneh. Perusahaan ini adalah salah satu brand smartphone pertama yang berani bereksperimen dengan stabilisasi berbasis hardware, memperkenalkan sistem mikro-gimbal pada Vivo X50 Pro. Sistem mikro-gimbal ini bikin kamera utama memiliki stabilitas yang luar biasa—layaknya gimbal eksternal yang mengecil—untuk video dan foto yang minim guncangan.
vivo terus menggunakan stabilisasi berbasis gimbal pada kamera belakangnya hingga seri X80. Teknologi itu kemudian dipensiunkan karena sensor kamera menjadi jauh lebih besar dan lebih berat secara fisik, sehingga mekanisme micro-gimbal yang lama gak mampu lagi menggerakkannya secara efektif. Namun, sejarah ini menunjukkan bahwa Vivo udah memiliki pengalaman mendalam dalam stabilisasi hardware dan software, dua elemen paling krusial dari kamera aksi mana pun.



