Sehari setelah peluncuran globalnya, perdebatan klasik antara performa chipset Snapdragon dan Exynos di Samsung Galaxy S26 Series kembali mencuat lewat kemunculan skor Geekbench 6. Kabar baiknya, kesenjangan performa di antara keduanya tahun ini tidak lagi sedramatis generasi-generasi sebelumnya.
Kenapa ini penting?
Pengujian awal ini bukan sekadar adu gengsi antara Qualcomm dan Exynos, melainkan juga ajang pembuktian teknologi manufaktur chip generasi terbaru. Exynos 2600 mencetak sejarah sebagai chip pertama yang dibangun dengan teknologi 2nm GAA milik pabrikan Samsung, sementara varian Snapdragon masih mengandalkan proses 3nm yang sudah matang dari TSMC.
Apa yang ditawarkan?
Keunggulan CPU di Snapdragon : Galaxy S26 Ultra memimpin sekitar 10 hingga 18% dalam pengujian single-core (mencetak skor ~3.700 dibandingkan ~3.100 milik Exynos 2600 di S26+). Dalam penggunaan sehari-hari, ini berarti varian Snapdragon akan terasa sedikit lebih gegas saat membuka aplikasi ringan. Untuk performa multi-core, keduanya bersaing sangat ketat di rentang angka 10.000 hingga 11.000.
Kejutan GPU di Exynos : Fakta paling menarik tahun ini ada pada pengujian grafis (OpenCL). Exynos 2600 berhasil mencetak skor 24.240, sedikit mengungguli Snapdragon yang berada di angka 24.152. Perbedaan tipis ini memiliki makna simbolis yang besar, mengingat Exynos secara historis selalu kesulitan menyaingi stabilitas dan output grafis dari Qualcomm.
Pax insight
Angka-angka di atas merupakan indikator awal yang sangat menjanjikan bagi Samsung untuk mematahkan stigma negatif terhadap Exynos. Namun, ujian sesungguhnya baru akan terjawab ketika perangkat ini digunakan untuk sesi gaming panjang di dunia nyata, yang akan menguji stabilitas performa dan efisiensi baterainya.



