Laporan terbaru Kaspersky mengungkap kesenjangan generasi dalam kebiasaan menyimpan data penting. Mayoritas mutlak (sekitar 90%) Gen Z dan milenial memilih menyimpan dokumen sensitif secara elektronik, sementara hampir 30% kelompok usia 55 tahun ke atas masih mengandalkan cara tradisional menggunakan catatan fisik atau kertas.
Tidak aman untuk dilakukan
Digitalisasi membawa kemudahan akses, namun juga mengekspos celah keamanan yang fatal jika tidak dikelola dengan benar. Meskipun 98% responden mengaku telah melindungi data mereka, 36% di antaranya masih menggunakan kata sandi yang mudah ditebak. Hal ini membuat "brankas digital" mereka sangat rentan terhadap serangan peretasan .
Apa saja detail dari penelitian ini?
- Kecenderungan Pengguna Indonesia: Tingkat adopsi penyimpanan digital di Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 61% responden menyimpan data penting di PC/hard drive, 61% menggunakan cloud, dan 14% mempercayakan data mereka pada layanan digital pemerintah.
- Strategi Pencadangan "3-2-1": Para ahli merekomendasikan untuk tidak sekadar menyimpan, tetapi juga mencadangkan data krusial: miliki setidaknya tiga salinan data, simpan di dua jenis media yang berbeda, dan letakkan satu salinan di lokasi eksternal seperti cloud.
- Tinggalkan Sandi Sederhana: Beralihlah ke autentikasi dua faktor (2FA) atau passkey. Untuk data paling sensitif, seperti pindaian KTP atau kartu bank, gunakan aplikasi pengelola kata sandi khusus yang memiliki fitur brankas rahasia terenkripsi.
- Otomatisasi Pencadangan: Untuk menghindari kerepotan, aktifkan fitur sinkronisasi dan pencadangan waktu nyata bawaan perangkat seperti di iCloud atau Google Drive untuk dokumen prioritas.
Pax insight
Menyimpan data secara digital, baik di perangkat maupun di cloud tidak secara otomatis membuatnya aman. Tanpa manajemen kata sandi yang kuat dan strategi pencadangan otomatis yang terstruktur, informasi paling rahasia Anda berisiko hilang secara permanen atau jatuh ke tangan peretas.



