Gawai
Jumat, 27 Februari 2026 19:01 WIB

Ini alasan Samsung tak terburu-buru untuk gunakan baterai silikon-karbon

Meski para pesaing dari Tiongkok sudah gunakan baterai silikon-karbon, ini alasan Samsung masih tak terburu-buru gunakan teknologi tersebut.
Ilustrasi: Pinterest

Selama enam tahun berturut-turut, Samsung konsisten mempertahankan kapasitas baterai 5.000mAh untuk lini ponsel flagship-nya. Meskipun pabrikan smartphone asal Tiongkok sudah ramai beralih ke teknologi baterai silikon-karbon yang lebih canggih, Samsung memilih untuk menundanya, termasuk pada peluncuran Galaxy S26 Series baru-hari ini.

Kenapa Samsung masih menahan diri?

Pendekatan konservatif ini sering dikritik dan dianggap "kurang inovatif". Namun, VP Eksekutif & Kepala Tim R&D Smartphone, Sung-Hoon Moon, menegaskan bahwa teknologi baru tersebut masih harus melewati standar validasi yang sangat ketat sebelum bisa disematkan ke perangkat mereka.

Berikut adalah faktor utama kehati-hatian Samsung :

  • Trauma Masa Lalu: Alasan terbesar Samsung menolak berjudi dengan teknologi baru ini adalah demi menghindari terulangnya kembali skandal baterai meledak pada Galaxy Note 7.
  • Risiko Skala Produksi: Sebagai penguasa pasar global, volume pengiriman flagship Samsung jauh lebih besar dibandingkan kompetitornya. Sedikit saja persentase baterai yang cacat atau terbakar akan langsung memicu mimpi buruk reputasi (PR nightmare) berskala internasional.
  • Standar Pengalaman Pelanggan: Meski sempat dirumorkan sedang bereksperimen dengan kapasitas jumbo 7.000mAh hingga 20.000mAh, Samsung dengan cepat membatalkannya. Perusahaan baru akan mengadopsi baterai silikon-karbon jika sudah terbukti 100% aman dan benar-benar meningkatkan pengalaman pengguna.

Pax insight

Meskipun keunggulan kepadatan daya dari teknologi silikon-karbon sangat menggiurkan, prioritas utama Samsung saat ini adalah keselamatan tanpa kompromi. Konsumen harus puas dengan optimalisasi daya melalui pembaruan chipset dan AI, ketimbang lonjakan kapasitas baterai secara fisik.