Gawai
Senin, 6 April 2026 10:07 WIB

Sempat beredar isu harga RAM turun, Samsung malah naikkan harga RAM di Q2 2026

Di tengah laporan penurunan harga RAM, Samsung dilaporkan menaikkan harga RAM di Q2 2026.

Di tengah isu penurunan harga memori yang sempat memicu kepanikan pasar, raksasa semikonduktor Samsung justru menunjukkan dominasinya. Mereka dilaporkan kembali menaikkan harga rata-rata produk DRAM sebesar 30% yang akan dimulai dari kuartal kedua (Q2) 2026.

Kenapa malah menaikkan harga?

Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi produsen perangkat keras, terutama di sektor ponsel pintar. Beban biaya komponen kini semakin tidak berimbang; pada perangkat kelas budget, harga DRAM memakan 35% dan NAND Flash mengambil 19% dari total Bill of Materials (BOM). Artinya, sekitar 54% ongkos produksi ponsel pintar murah kini hanya habis untuk cip memori saja.

Apa saja detailnya?

  • Kenaikan Beruntun yang Agresif: Lonjakan 30% di Q2 2026 ini terasa sangat berat karena terjadi tepat setelah Samsung menerapkan kenaikan harga rata-rata tahunan (YoY) yang fantastis sebesar 100% pada Q1 2026. 
  • Cakup Seluruh Segmen: Harga premium ini berlaku rata untuk berbagai jenis produk DRAM, mulai dari cip High Bandwidth Memory (HBM) yang krusial untuk AI, hingga DRAM komersial standar untuk server, PC, dan gawai.
  • Efek Domino Industri: Langkah berani Samsung diproyeksikan akan langsung memicu para pesaing utamanya, seperti SK hynix dan Micron, untuk ikut mengerek harga produk memori mereka.
  • Proyeksi Masa Depan: Meskipun cip DDR4 lawas sedang mengalami tekanan harga akibat likuidasi cuci gudang besar-besaran, harga kontrak cip modern seperti LPDDR5 justru diperkirakan akan terus naik hingga dua digit persentase pada tahun 2027.

Pax insight

Laporan terbaru mengenai keruntuhan harga DRAM komersial sepenuhnya terbantahkan. Selama pemain raksasa seperti Samsung terus mempertahankan kendali pasokan dan mendikte harga, konsumen di ujung rantai akan terus menanggung beban gawai, terutama ponsel pintar yang semakin mahal.