Gawai
Minggu, 5 April 2026 12:01 WIB

Harga smartphone naik, harga RAM dan penyimpanan masih jadi masalah utama

Beberapa vendor disebut telah menaikkan harga perangkat mereka di semua lini, baik yang sudah meluncur atau yang akan meluncur.

Harga smartphone di Indonesia terpantau mulai naik pada awal 2026, dan penyebab terbesarnya ada pada lonjakan harga chip memori. Namun cerita pasar tidak berhenti di sana. Kenaikan harga akhir yang terlihat di etalase juga menunjukkan pilihan strategis tiap brand, siapa yang memilih meneruskan tekanan biaya ke konsumen, siapa yang menahan margin, dan siapa yang sekalian mendorong produknya naik kelas.

Kenapa ini penting?

Indonesia adalah salah satu pasar yang sangat sensitif terhadap naik turunnya nilai sesuatu, mulai dari mata uang asing hingga harga komponen di industri manapun. IDC mencatat harga jual rata-rata smartphone di Indonesia pada 2024 hanya sekitar USD195 atau sekitar Rp3,3 juta-an. Artinya, kenaikan Rp500 ribu sampai Rp1,4 juta di kelas menengah tidak terasa kecil itu bisa langsung menggeser persepsi value dan menunda keputusan upgrade.

Apa saja faktor yang membuat harga smartphone naik di Indonesia?

Penggerak paling kuat memang ada di memori. TrendForce pada Desember 2025 sudah memperingatkan harga memori bakal naik tajam lagi di kuartal pertama 2026 dan menekan vendor smartphone. Sebulan kemudian, lembaga yang sama memperkirakan harga kontrak conventional DRAM di 1Q26 naik 55-60% secara kuartalan, sementara NAND Flash naik 33-38%. Pada pembaruan 2 Februari 2026, proyeksi kenaikan NAND bahkan dinaikkan lagi ke 55-60%.

Dengan kata lain, narasi bahwa vendor menghadapi tekanan biaya bukan sekadar alasan pemasaran. Dua komponen yang paling menentukan konfigurasi smartphone modern, seperti RAM dan penyimpanan, memang sedang berada dalam fase mahal.

Detail penting dari pasar Indonesia

Tekanan biaya global tadi masuk ke pasar Indonesia yang sangat peka terhadap banderol. IDC mencatat pasar smartphone Indonesia mencapai hampir 40 juta unit pada 2024, tetapi harga jual rata-ratanya tetap rendah. Itu berarti ruang untuk menaikkan harga sebenarnya tidak lebar, terutama di kelas Rp3 juta-Rp7 juta yang selama ini menjadi titik paling ramai kompetisi.

Karena itu, ketika perangkat generasi baru naik Rp500 ribu, Rp900 ribu, bahkan Rp1,4 juta, dampaknya di Indonesia jauh lebih terasa daripada di pasar yang average selling price-nya lebih tinggi. Konsumen kelas menengah bukan cuma membandingkan model baru dengan model lama, mereka juga membandingkannya dengan old flagship, program cicilan, promosi operator, dan diskon marketplace.

Bukan murni soal komponen

Di sinilah pembacaan editorialnya menjadi lebih menarik. Kenaikan harga memori menjelaskan arah umum pasar, tetapi tidak otomatis menjelaskan seluruh selisih harga di setiap model. Dari tabel Pax, terlihat ada brand yang naik agresif sampai dua digit, ada yang naik moderat, dan ada juga yang mampu menahan harga.

Artinya, setelah tekanan biaya masuk, setiap vendor masih membuat keputusan bisnisnya sendiri. Ada yang memilih menjaga margin. Ada yang sekalian menaikkan positioning agar produk baru terasa lebih premium. Ada juga yang tampaknya rela menahan beban agar tetap kompetitif di rak penjualan.

Kenaikan harga di pasar

 

 

Tipe (Baru) Harga Launch Tipe (Lama) Harga Launch Selisih (Rp) Kenaikan
Galaxy S26 Ultra 24.499.000 Galaxy S25 Ultra 22.999.000 1.500.000 6,12%
Galaxy S26+ 19.499.000 Galaxy S25+ 17.999.000 1.500.000 7,69%
Galaxy S26 16.499.000 Galaxy S25 14.999.000 1.500.000 9,09%
Xiaomi 17 Ultra 19.999.000 Xiaomi 15 Ultra 16.999.000 3.000.000 15,00%
Xiaomi 17 14.999.000 Xiaomi 15 11.999.000 3.000.000 20,00%
Vivo V70 8.999.000 Vivo V60 6.999.000 2.000.000 22,22%
Realme 16 Pro 6.999.000 Realme 15 Pro 6.999.000 0 0,00%
Galaxy A57 7.599.000 Galaxy A56 6.199.000 1.400.000 22,58%
Galaxy A37 6.599.000 Galaxy A36 5.199.000 1.400.000 26,93%
Redmi Note 15 Pro+ 5.999.000 Redmi Note 14 Pro+ 5.499.000 500.000 8,33%
Camon 50 3.599.000 Camon 40 2.699.000 900.000 25,01%
Redmi Note 15 2.999.000 Redmi Note 14 2.899.000 100.000 3,33%

 

 

Polanya cukup jelas. Di kelas flagship, kenaikan harga masih terlihat terukur, seperti lini Galaxy S26 yang naik sekitar 6-9%. Namun pada beberapa model lain, terutama di kelas yang lebih sensitif terhadap harga, lonjakannya bisa menembus dua digit dan terasa jauh lebih berat buat konsumen Indonesia.

Ini memberi sinyal penting, dimana yang paling berisiko terguncang bukan selalu pembeli flagship. Justru pasar menengah bisa menjadi titik paling rapuh, karena segmen inilah yang paling keras menimbang rasio harga terhadap manfaat nyata.

Reality check

Ada satu faktor lain yang tidak bisa diabaikan, yakni AI di smartphone ikut mengubah struktur produk. Secara global, IDC memperkirakan pengiriman GenAI smartphone terus tumbuh. Di level brand, fitur AI sekarang tidak lagi diposisikan sebagai bonus, melainkan bagian dari narasi nilai jual. Itu membuat vendor punya justifikasi tambahan untuk mendorong harga naik, meski fondasi awalnya tetap berasal dari biaya komponen.

Jadi, kalau ditanya apa faktor utama kenaikan harga smartphone di Indonesia saat ini, jawabannya tetap memori. Tetapi besarnya kenaikan di tiap perangkat adalah campuran antara tekanan rantai pasok, strategi margin, positioning produk, dan keberanian brand menguji batas psikologis pasar.

Pax insight

Artikel ini dibuat bukan untuk menyimpulkan bahwa semua vendor sedang mencari untung lebih besar. Yang lebih akurat adalah pasar sedang berada di fase ketika biaya komponen naik tajam, lalu tiap brand merespons dengan caranya sendiri. Karena itu, pembaca tidak perlu menelan mentah-mentah kalimat bahwa harga naik semata-mata akibat RAM dan storage, tetapi juga tidak tepat menuduh semua kenaikan harga sebagai oportunisme belaka.

Dalam beberapa bulan ke depan, penentu arah pasar akan sederhana, yakni apakah harga memori mulai stabil. Jika belum, smartphone generasi baru akan sulit kembali ke harga yang terasa masuk akal. Jika ya, persaingan akan bergeser lagi ke kamera, AI, desain, dan taktik promosi.