Gawai
Selasa, 24 Maret 2026 20:11 WIB

OnePlus siapkan handheld gaming berbasis Android

Dalam sebuah bocoran terbaru, OnePlus dikabarkan sedang mengembangkan handheld gaming berbasis Android.

Di tengah persiapan peluncuran OnePlus 15T, sebuah bocoran dari Digital Chat Station mengungkapkan bahwa sebuah produsen ponsel besar yang diduga kuat OnePlus sedang mengembangkan konsol handheld dengan sistem operasi Android. Berbeda dengan Steam Deck, ROG Ally, dan lainnya, perangkat ini akan mendefinisikan ulang kontrol gim dengan mengutamakan interaksi layar sentuh.

Tidak bersaing dengan Steam Deck, ROG Ally, dan lainnya

Alih-alih memasang stik analog atau tombol fisik, perangkat ini dirancang untuk memaksimalkan pengalaman gim kompetitif mobile seperti PUBG Mobile dan Delta Force. Strategi ini menyasar pemain yang sudah terbiasa dengan kontrol sentuh namun membutuhkan presisi, responsivitas, dan performa yang melampaui kemampuan smartphone standar.

Apa yang ditawarkan konsol handheld berbasis Android ini?

Inovasi Kontrol Sentuh (Touch-First)

  • ​Akurasi Tinggi: Fokus pengembangan pada latensi sentuh yang sangat rendah dan akurasi multi-jari yang ditingkatkan.
  • ​Optimasi Sistem: Penyetelan performa tingkat flagship yang dikhususkan untuk menjaga frame rate tinggi pada gim FPS (First-Person Shooter).

Spesifikasi yang bocor

  • ​Layar: Mendukung high refresh rate yang dioptimalkan untuk gim berat.
  • ​Material: Penggunaan sasis yang dirancang untuk manajemen panas (termal) yang lebih baik dibandingkan ponsel biasa agar tidak terjadi throttling saat sesi gim lama.

​Diversifikasi produk akibat biaya komponen

  • ​Konteks Industri: Lonjakan harga memori dan penyimpanan mendorong vendor smartphone untuk berekspansi ke lini produk baru guna mencari margin keuntungan.
  • ​Tren Vendor Lain: Selain OnePlus, Vivo dikabarkan tengah menggarap kamera gimbal pesaing DJI Osmo Pocket sebagai bagian dari strategi serupa.  

Pax insight

OnePlus mencoba menggabungkan kekuatan smartphone dan konsol dalam satu perangkat hibrida. Jika benar, ini akan menjadi eksperimen berani untuk melihat apakah pasar konsol genggam bisa menerima perangkat tanpa tombol fisik di tahun 2026.