Meta saat ini tengah mempersiapkan untuk meluncurkan teknologi pengenalan wajah di perangkat kacamata pintar mereka di masa depan. Tapi, keputusan ini membuat marah lebih dari 70 organisasi hak sipil global, yang kemudian mengirimkan surat peringatan keras kepada CEO Meta Mark Zuckerberg untuk mengurungkan niat perusahaan merilis fitur tersebut.
Kenapa ini penting?
Isu privasi digital kini menjadi perhatian krusial termasuk di Indonesia. Penggunaan pengenal wajah yang kasat mata berpotensi menjadi senjata bagi penguntit, penipu, hingga pelaku kejahatan seksual. Koalisi sipil menegaskan bahwa ancaman ini terlalu berbahaya dan tidak bisa diselesaikan sekadar dengan pengaturan pembatasan fitur.
Apa saja detail dari masalah ini?
- Fitur Name Tag: Teknologi berbasis kecerdasan buatan ini dirancang untuk memindai wajah orang di sekitar pengguna dan memunculkan informasi pribadi target secara langsung di layar kacamata asalkan target memiliki akun publik di ekosistem Meta seperti Instagram.
- Taktik Peluncuran Culas: Dokumen internal yang bocor menyebutkan bahwa Meta berniat merilis fitur kontroversial ini di tengah memanasnya situasi politik global dengan harapan luput dari pengawasan dan kritik publik.
- Tuntutan Transparansi: Koalisi hak sipil mendesak Meta untuk membuka data jika perangkat sandang mereka pernah disalahgunakan untuk pelecehan dan kekerasan serta mengungkap riwayat diskusi mereka dengan lembaga penegak hukum.
- Respons Perusahaan: Perwakilan Meta mengklarifikasi bahwa fitur tersebut belum tersedia di lini produk mereka saat ini dan berjanji akan melakukan pendekatan yang sangat matang jika kelak merilisnya.
- Denda Fantastis: Meta sebelumnya terpaksa mengakhiri sistem penandaan foto Facebook pada 2021 dan membayar miliaran dolar setara puluhan triliun rupiah untuk menyelesaikan gugatan privasi biometrik. Mereka juga membayar tambahan denda sebesar $5 miliar setara sekitar Rp80 triliun kepada FTC terkait kasus perangkat lunak pengenal wajah.
Pax insight
Kehadiran kacamata pintar dengan pengenal wajah otomatis dapat memicu krisis privasi skala besar. Mengingat rekam jejak buruk Meta terkait data biometrik, pemaksaan rilis inovasi ini akan berisiko memicu gelombang penghapusan akun massal dan tuntutan hukum yang jauh lebih merugikan bagi perusahaan.



