Beberapa hari terakhir pasti kamu kaget melihat harga RAM, baik untuk laptop atau desktop baik di toko online dan offline yang terus naik. Memang sih, harga RAM selama satu tahun terakhir ini masih terbilang mahal, tapi, apa yang membuat harga ram naik setiap hari?
Jika dibandingkan dengan pertengahan November lalu, harga RAM di awal-pertengahan Desember ini meningkat drastis, bahkan bisa sampai 3 atau 4 kali lipat. Hal ini membuat pengguna laptop atau PC yang ingin upgradde teriak.
Ternyata, kenaikan gila-gilaan ini dipicu oleh lonjakan permintaan dari data center AI, pergeseran produksi ke teknologi baru (DDR5/HBM), dan strategi produsen yang sengaja mengurangi pasokan demi mengerek harga.
The Real Culprit: Data Center AI Serap DRAM Secara Masif
Alasan utama harga RAM naik gak lain adalah ledakan permintaan dari AI dan data center. Data center AI dan server skala besar menyerap DRAM dalam jumlah yang masif, khususnya tipe DDR5 dan HBM (High Bandwidth Memory). Karena permintaan dari sektor ini kenceng banget, otomatis pasokan untuk pasar konsumen (PC/laptop) ikut mengetat. Efek domino ini bikin harga dasar DRAM global naik, memaksa user PC/laptop biasa harus merogoh kocek lebih dalam.
Pemain besar di industri chip seperti Samsung, SK hynix, dan Micron udah mengambil langkah strategis yang bikin harga kontrak DRAM dan NAND naik hingga sekitar 15–30 persen per kuartal. Mereka juga sengaja mengalihkan kapasitas pabrik dari tipe lama (DDR4/LPDDR4X) ke DDR5 dan HBM karena margin keuntungannya jauh lebih tinggi. Profit adalah kunci, Guys!
DDR4 Jadi Korban: Kelangkaan Chipset Lama Bikin Harga Nanjak Lebih Agresif
Ironisnya, keputusan produsen mengalihkan fokus ke HBM/DDR5 justru membuat harga DDR4 melonjak lebih agresif daripada DDR5. Logikanya simpel: produksi tipe lama seperti DDR4 makin sedikit karena line produksi dialihkan. Meskipun permintaan DDR4 dari pasar entry-level dan legacy system masih ada, supply yang minim bikin harganya gak masuk akal lagi. Ini bikin user yang ingin upgrade PC lama harus berpikir dua kali.
Kenaikan harga ini juga merupakan bagian dari siklus industri. Pada 2023 hingga awal 2024, pasar sempat mengalami oversupply, bikin harga RAM anjlok dan produsen merugi. Ini memaksa produsen memangkas output dan investasi. Ketika tiba-tiba permintaan AI melonjak drastis dan stok lama mulai menipis, pasar langsung berbalik menjadi undersupply dan harga meroket. Strategi ini juga didorong oleh keinginan produsen untuk memulihkan margin setelah periode rugi.
Strategi produsen gak cuma soal shift teknologi, tapi juga mengontrol pasokan. Dengan sengaja mengurangi supply di pasar dan menaikkan harga kontrak, mereka memaksimalkan leverage pasar. Mereka memanfaatkan booming AI untuk menstabilkan keuangan internal pasca-kerugian. Meskipun ini gak disukai user akhir, dari sisi bisnis, ini adalah cara pemain besar memulihkan kesehatan finansial mereka dan memastikan profitability di masa depan.
Dan yang parah lagi, beberapa pemain RAM konsumen memilih untuk hengkang dari pasar konsumen. Crucial misalnya, yang memilih hengkang dari pasar konsumen. Micron Technology, Inc. sebagai induknya memilih pasar AI yang lebih cuan. Dan ini bukanlah akhir, namun bisa jadi awal bagi vendor lain mengambil langkah yang sama.
Pax Insight
Kenaikan harga RAM bukanlah akhir, tapi Pax.id melihat justru awal dari sebuah kekacauan yang lebih luas, termasuk kenaikan harga SSD yang notabene juga memerlukan memory controller untuk bekerja. Dan kelangkaan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, karena waktu tunggu permintaan memory sudah mencapai 2 tahun untuk kebutuhan server dan lainnya. Jadi tak heran jika produksi RAM dan SSD untuk konsumen lebih lama lagi.



