Hibura
Kamis, 11 Desember 2025 18:09 WIB

Masyarkat Indonesia semakin gemar belanja lewat media sosial

Laporan DoubleVerify menunjukkan 52% konsumen Indonesia membeli barang via media sosial, melampaui rata-rata APAC. YouTube dan Instagram dominan. Namun, marketer di SEA khawatir terhadap Brand Safety (52%) dan akuntabilitas karena tingginya risiko dari User-Generated Content dan deepfake berbasis AI.

DoubleVerify baru saja meluncurkan laporan komprehensif 2025 Global Insights: How Consumers and Marketers Use Walled Gardens. Laporan ini menyoroti peran sentral media sosial dalam membentuk keputusan belanja global, termasuk meneliti pasar Indonesia.

Pada laporantersebut, wilayah Indonesia mengalami fenomena walled gardens (platform digital besar), yang berkembang makin kuat. Laporan tersebut mengungkap media sosial kini sudah jadi lebih dari sekadar tempat scrolling, tapi berkembang menjadi pasar, komunitas, dan entertainment hub yang memengaruhi bagaimana user menghabiskan waktu dan uang mereka.

Next Level Transaksi: Konsumen RI Paling Doyan Checkout di Medsos

Data dari laporan DV menyoroti bahwa konsumen Indonesia beneran social-first dan berorientasi transaksi. Sebanyak 52% konsumen Indonesia melaporkan telah melakukan pembelian melalui saluran media sosial dalam 12 bulan terakhir. Angka ini jauh melampaui rata-rata kawasan Asia Pasifik (APAC) yang hanya 40%. Angka ini menegaskan bahwa media sosial udah menjadi saluran transaksi yang signifikan dan trusted bagi masyarakat Indonesia.

Sebelum checkout, konsumen Indonesia juga menjadikan media sosial sebagai salah satu dari tiga alat riset utama mereka (38%). Mereka mengandalkan online reviews (64%) dan menonton video reviews (55%) sebagai sumber utama informasi. Platform yang paling sering digunakan mingguan adalah YouTube (90%), diikuti Instagram (78%), dan Facebook (72%), menunjukkan adopsi media sosial yang super tinggi di seluruh aktivitas digital life mereka.

King dan Queen Influencer: Mega dan Macro Jadi Game Changer Pembelian

Dalam hal pengaruh, Mega Influencers (>1 juta pengikut) dan Macro Influencers (100K–1 juta pengikut) menjadi kunci. Masing-masing 61% dan 63% konsumen Indonesia menyatakan terpengaruh oleh influencer ini dalam keputusan pembelian mereka. Ini menunjukkan bahwa brand yang ingin reach out ke pasar Indonesia wajib banget berkolaborasi dengan influencer berkapasitas besar untuk drive conversion dan awareness.

Meskipun media sosial menawarkan potensi reach dan transaksi yang luar biasa, marketer menghadapi tantangan serius. Sebanyak 66% pengiklan di kawasan APAC khawatir terhadap Brand Safety and Suitability penempatan iklan sosial. Di Asia Tenggara (SEA), kekhawatiran mencapai 52%, menunjukkan peningkatan kesadaran bahwa Brand Safety adalah tantangan serius dan terus meningkat.

Pax Insight 

Laporan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Soalnya, senjak beberapa tahun terakhir ini, banyak platform media sosial yang menjadikan platform mereka sebuah layanan streaming jualan online. Dan terbukti dengan hadirnya fitur ini, penjualan barang secara online pun berangsur meningkat.