Gawai
Kamis, 1 Januari 2026 14:03 WIB

Harga RTX 5090 bisa tembus 80 juta lebih di 2026

NVIDIA dan AMD akan naikkan harga GPU mulai awal 2026. RTX 5090 diprediksi melonjak hingga 83 juta akibat krisis DRAM dan permintaan AI.

Industri perangkat keras komputer sedang bersiap menghadapi tantangan besar seiring dengan rencana NVIDIA dan AMD untuk menaikkan harga unit pemroses grafis (GPU) secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa segmen PC gaming DIY akan mengalami disrupsi parah pada kuartal pertama tahun 2026.

Kenaikan harga ini diprediksi tidak hanya menyasar kartu grafis kelas atas, tetapi juga merambat ke seluruh spektrum GPU konsumen. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi para rakitan PC yang telah menantikan penurunan harga pasca-liburan, namun justru dihadapkan pada struktur harga yang semakin tidak terkendali di pasar global.

Pemicu utama dari lonjakan harga ini adalah melambungnya harga DRAM yang menjadi komponen vital dalam pembuatan kartu grafis. Sumber industri menyebutkan bahwa biaya manufaktur GPU saat ini telah membengkak secara drastis, di mana porsi memori saja berkontribusi terhadap lebih dari 80 persen total biaya produksi.

Kondisi ini memaksa produsen seperti Samsung dan SK hynix untuk menyesuaikan harga kontrak mereka, yang kemudian dibebankan oleh NVIDIA dan AMD kepada konsumen akhir. Akibatnya, kenaikan harga ini bersifat sistemik dan sulit dihindari karena ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan memori semikonduktor global.

Jadwal Kenaikan Harga Bertahap NVIDIA dan AMD

Berdasarkan laporan dari outlet teknologi Korea, Newsis, AMD diprediksi akan memulai langkah kenaikan harga paling cepat pada Januari 2026. NVIDIA diperkirakan akan menyusul dengan penyesuaian harga pada Februari 2026 untuk lini produk terbaru mereka. Kenaikan ini tidak akan terjadi secara instan dalam satu malam, melainkan melalui langkah-langkah bertahap yang akan terus meningkat setiap bulannya sepanjang tahun 2026. Strategi ini kemungkinan besar dilakukan untuk meredam syok pasar sambil tetap menyesuaikan dengan fluktuasi biaya bahan baku yang terus merangkak naik di tingkat produsen.

Salah satu sorotan paling dramatis dalam krisis harga ini adalah kartu grafis flagship NVIDIA, GeForce RTX 5090. Meskipun awalnya diluncurkan dengan harga eceran resmi (MSRP) sebesar USD2000 atau sekitar Rp33,3 juta, GPU tercepat di dunia ini diprediksi akan melonjak hingga menyentuh angka USD5000 atau sekitar Rp83,4 juta.

Kenaikan sebesar 2,5 kali lipat dari harga aslinya ini menjadikannya kartu grafis konsumen dengan harga tertinggi sepanjang sejarah. Bagi para antusias teknologi, angka ini dianggap sangat luar biasa dan mencerminkan betapa parahnya kelangkaan komponen serta tingginya biaya produksi yang harus ditanggung oleh ekosistem manufaktur saat ini.

Selain masalah bahan baku, kelangkaan stok bagi para gamer juga diperparah oleh fenomena pengalihan pasokan ke sektor kecerdasan buatan (AI). Laporan menyebutkan bahwa banyak unit GPU konsumen seperti RTX 5070 dan RTX 5080 diborong secara massal oleh pabrik-pabrik AI khusus di pasar Asia.

Unit-unit tersebut kemudian dimodifikasi menjadi model blower-style yang lebih ringkas agar dapat disusun dalam rak server untuk keperluan komputasi AI. Praktisnya, para pemain gim kini harus berebut stok dengan industri AI yang memiliki modal jauh lebih besar, sehingga ketersediaan unit di pasar ritel menjadi sangat terbatas.

Fenomena modifikasi GPU ini bahkan melangkah lebih jauh dengan munculnya varian "32 GB AI" untuk kartu grafis seperti RTX 4080 dan RTX 5080. Modifikator pihak ketiga melipatgandakan kapasitas VRAM dari spesifikasi standar guna memenuhi kebutuhan model bahasa besar (LLM) yang sangat haus memori.

Meskipun produk-produk ini tidak ditujukan untuk pasar gaming, proses produksinya tetap memakan stok cip inti yang seharusnya dialokasikan untuk konsumen umum. Hal ini menciptakan tekanan tambahan pada rantai pasok global dan membuat harga kartu grafis standar tetap tinggi karena kelangkaan cip yang tersisa di pasaran.

Pax Insight : Masa Depan Suram bagi Upgrader PC di Tahun 2026

Melihat tren yang berkembang, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang mengecewakan bagi mereka yang berencana untuk memperbarui sistem komputer mereka. Kombinasi antara kenaikan biaya produksi, manipulasi pasar oleh sektor AI, dan strategi harga bertahap dari produsen utama membuat harapan untuk mendapatkan GPU dengan harga terjangkau semakin menipis.

Pengguna disarankan untuk mempertimbangkan kembali jadwal pembelian perangkat keras atau mencari alternatif sebelum kenaikan harga yang diproyeksikan mulai berlaku sepenuhnya di awal tahun depan. Tahun ini nampaknya akan menguji loyalitas dan daya beli komunitas gaming secara ekstrem.