Gawai
Jumat, 26 Desember 2025 18:01 WIB

ASUS bakal bikin RAM sendiri, benarkah?

ASUS dikabarkan bakal bangun lini produksi DRAM pada 2026 demi lawan krisis memori global. Namun, manajemen ASUS resmi bantah rumor tersebut.

Dunia teknologi sedang diguncang oleh krisis memori yang diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2028 akibat tingginya permintaan untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Di tengah ketidakpastian ini, muncul rumor mengejutkan bahwa ASUS, salah satu produsen PC terbesar di dunia, berencana untuk memproduksi cip DRAM mereka sendiri mulai kuartal kedua tahun 2026.

Langkah ini dipandang sebagai upaya defensif yang sangat berani demi mengamankan pasokan internal untuk lini produk unggulan mereka. Jika benar-benar terwujud, ASUS akan bertransformasi dari sekadar perakit perangkat keras menjadi salah satu pemain kunci di industri manufaktur semikonduktor global.

Dilansir dari laman Wccftech (26/12), kabar mengenai ambisi ASUS ini pertama kali disebarkan oleh outlet teknologi asal Persia, Sakhtafzarmag, yang memiliki reputasi cukup baik dalam membocorkan informasi akurat mengenai prosesor AMD dan Intel di masa lalu. Menurut laporan tersebut, ASUS akan membangun lini produksi khusus jika harga memori dan kondisi pasokan di pasar internasional tidak segera kembali normal dalam waktu dekat.

Fenomena ini memicu perdebatan luas di kalangan antusias teknologi, mengingat investasi yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas fabrikasi memori sangatlah masif dan memerlukan keahlian teknis yang sangat spesifik selama bertahun-tahun.

Jika rencana ini berjalan sesuai rumor, prioritas utama ASUS adalah melakukan perampingan rantai pasok untuk jajaran perangkat laptop dan desktop mereka sendiri, terutama merek populer seperti ROG dan TUF. Seperti halnya produsen PC lainnya, ASUS sangat terbebani oleh kenaikan harga komponen memori yang melonjak drastis sepanjang tahun 2025.

Dengan memproduksi DRAM secara mandiri, ASUS berharap dapat menekan biaya produksi dan menjaga harga jual produk akhir agar tetap kompetitif di mata konsumen, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada margin keuntungan yang ditetapkan oleh pemasok pihak ketiga.

Langkah ASUS ini muncul di saat produsen memori tradisional seperti Micron (melalui merek Crucial) justru mulai meninggalkan pasar konsumen untuk fokus pada segmen AI dan server yang jauh lebih menguntungkan. Berbeda dengan Micron, Samsung, atau SK Hynix yang mengejar profitabilitas maksimal di pasar enterprise, motivasi ASUS dinilai lebih condong ke arah kelangsungan hidup (survival) bisnis PC mereka.

ASUS tidak ingin terjebak dalam perang harga memori yang dikendalikan oleh segelintir pemain besar, terutama ketika stok memori untuk perangkat konsumen semakin terpinggirkan oleh pesanan raksasa dari industri pusat data.

Bantahan Resmi ASUS Terhadap Rumor Fabrikasi DRAM

Meskipun rumor ini sempat memberikan harapan bagi para perakit PC, manajemen pusat ASUS di Taiwan melalui pernyataan resminya baru-baru ini telah membantah kabar tersebut. Perwakilan ASUS menyatakan bahwa perusahaan saat ini tidak memiliki rencana untuk berinvestasi pada fasilitas fabrikasi wafer memori (memory wafer fab).

Para analis menilai bahwa membangun pabrik cip dari nol membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga tahun untuk mencapai tahap produksi massal, sehingga solusi ini dianggap kurang relevan untuk mengatasi krisis jangka pendek yang sedang terjadi saat ini.

Sebagai respons terhadap harga memori yang terus meroket, ASUS menyatakan akan lebih memilih untuk memperdalam kerja sama dengan pemasok memori yang sudah ada. Alih-alih memproduksi cip sendiri, perusahaan kemungkinan akan menyesuaikan spesifikasi produk dan mengoptimalkan siklus hidup perangkat mereka untuk beradaptasi dengan kondisi pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen mungkin akan melihat penyesuaian kapasitas RAM pada beberapa model laptop terbaru di tahun 2026, atau peningkatan harga jual guna menyeimbangkan kenaikan biaya bahan baku (bill of materials) yang tak terhindarkan.

Pax Insight

Meskipun ASUS telah membantah rumor produksi mandiri, fenomena ini menunjukkan betapa gentingnya situasi rantai pasok memori di tingkat global saat ini. Pasar tetap berharap adanya pemain baru yang bisa menyeimbangkan dominasi tiga besar produsen DRAM dunia guna menstabilkan harga komponen bagi pengguna rumahan.

Untuk saat ini, para pengguna dan pelaku industri harus bersiap menghadapi tahun 2026 yang penuh tantangan, di mana efisiensi penggunaan perangkat lunak dan optimalisasi perangkat keras akan menjadi kunci utama dalam menghadapi kelangkaan memori yang diprediksi belum akan usai dalam waktu dekat.