Apple dikabarkan sedang memikirkan untuk menaikan harga lini iPhone mereka secara diam-diam. Selain itu, mereka juga akan benar-benar menghapus opsi penyimpanan 128GB, memaksa pengguna untuk membeli perangkat dengan penyimpanan 256GB.
Kenapa ini penting?
Mereka menggunakan taktik "inflasi terselubung" untuk melakukan hal tersebut. Alih-alih mengumumkan kenaikan harga secara eksplisit yang berisiko memicu reaksi negatif, Apple cukup menghilangkan titik masuk termurah. Hasilnya, harga paling murah untuk memiliki iPhone terbaru otomatis naik sekitar USD100 atau sekitar Rp1,5 jutaan.
Dilansir dari laman Phone Arena (3/2), analis Craig Moffett dari Moffett Nathanson menyebut ini sebagai tuas strategis untuk melindungi margin keuntungan di tengah naiknya biaya komponen :
- Strategi ini sudah terlihat musim gugur lalu saat Apple menyuntik mati varian 128GB pada iPhone 17 Pro.
- Penyimpanan memori adalah sumber cuan besar bagi Apple. Biaya untuk menambah kapasitas memori relatif murah bagi perusahaan, namun mereka bisa membebankan selisih harga yang tinggi kepada konsumen.
Dampaknya, bagi konsumen yang sangat bergantung pada cloud storage dan tidak membutuhkan ruang besar, perubahan ini terasa seperti "pemaksaan". Anda membayar untuk kapasitas 256GB yang mungkin tidak mengubah pengalaman harian pengguna, namun wajib dibeli karena tidak ada opsi lain.
Pax insight
Sebenarnya, praktik meningkatkan harga tanpa pemberitahuan secara terbuka sudah dilakukan oleh banyak perusahaan, termasuk perusahaan teknologi. Hal ini dilakukan untuk menekan sentimen negatif mengenai brand mereka. Bagi pengguna, hal ini akan merugikan mereka karena biasanya mereka baru mengetahui kenaikan harga tersebut saat hendak membeli, sehingga membuat mereka ragu untuk melanjutkan pembelian atau tidak.



