Gawai
Kamis, 11 September 2025 09:12 WIB

Apple A19 Pro unggul di Single-Core, tapi kalah di multicore

Apple A19 Pro tunjukkan peningkatan 13% dari pendahulunya, namun performa multicore-nya kini kalah dari Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600.

Acara peluncuran iPhone 17 Series milik Apple baru-baru ini diikuti dengan munculnya skor benchmark untuk chip A19 Pro. CPU 6-core-nya menunjukkan peningkatan sederhana sebesar 13% dari A18 Pro, yang dimana cukup mengesankan.

Nah, baru sehari diluncurkan, bocoran benchmark dari prosesor yang satu ini sudah mulai mencuat. Dalam bocoran tersebut, terlihat perbandingan performa Geekbench 6 terbaru, A19 Pro dengan prosesor lainnya.

Dilansir dari laman Wccftech (11/9), prosesor ini mendapatkan skor single-core 3.895 dan skor multi-core 9.746. Angka ini terbilang bagus untuk chip flagship, tetapi Apple terlihat mencapai titik jenuh di kategori multi-threaded. Hal ini kemungkinan karena Apple ingin mempertahankan efisiensi tinggi pada SoC-nya.

Di sisi Android, ada Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600 yang menantang dominasi Apple. Versi underclocked dari Snapdragon 8 Elite Gen 5, yang diuji di Galaxy S26 Edge dengan kecepatan inti 4.00GHz (bukan 4.74GHz), berhasil mengungguli A19 Pro di tes multi-core Geekbench 6 dengan skor 11.515. Skor ini unggul 18,2% dari A19 Pro, meski 12,9% lebih lambat dalam tes single-core.

Sementara itu, Exynos 2600 yang dikabarkan menjadi chip 2nm GAA pertama dari Samsung, juga bersaing ketat. Chip ini mengalahkan A19 Pro sebesar 15,5% di hasil multi-core, meskipun tertinggal 15% di kategori single-threaded dari pesaing terbarunya.

Beberapa tahun lalu, ada argumen yang menyebut bahwa chipset Android tidak akan pernah bisa menyaingi performa seri A Apple. Meskipun hal itu sebagian benar, Qualcomm dan Samsung telah berhasil memperkecil kesenjangan performa secara signifikan.

Namun, perlu dicatat bahwa skor multi-core yang diraih Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600 didapatkan dengan jumlah core yang lebih banyak. Apple mempertahankan konfigurasi 6-core pada chipset-nya untuk menjaga efisiensi, sementara Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600 mengandalkan konfigurasi CPU masing-masing 8 dan 10-core untuk mengklaim keunggulan dari rivalnya.

Pada akhirnya, benchmark sintetis punya kegunaannya, tetapi hasil ini tidak akan pernah bisa mengalahkan pengalaman di dunia nyata. Sementara kita menunggu hasil tes tersebut, menarik untuk melihat bagaimana persaingan chipset di masa depan akan berlangsung.