AI
Jumat, 28 November 2025 12:07 WIB

Kekhawatiran konsumen naik saat penipuan seluler berbasis AI ancam belanja online

Menjelang puncak belanja online, survei Appdome mengungkap lonjakan kekhawatiran konsumen Indonesia terhadap penipuan seluler berbasis AI.

Menjelang puncak belanja online, survei Appdome mengungkap lonjakan kekhawatiran konsumen Indonesia terhadap penipuan seluler berbasis AI. Data menunjukkan bahwa penipuan sintetis, pencurian identitas, dan serangan AI menjadi alasan utama pengguna meninggalkan aplikasi selama Black Friday dan musim liburan. Tahun ini adalah pertama kalinya responden Indonesia disertakan dalam laporan tahunan kelima Appdome, dan hasilnya menyoroti kerentanan yang meningkat saat volume transaksi dan tekanan kecepatan melonjak.

Tekanan musim liburan memperbesar risiko: 56,7% konsumen paling takut terhadap penipuan sintetis, sementara 40,7% pernah menghapus aplikasi karena khawatir pencurian identitas. Bahkan 75,3% responden mengaku pernah meninggalkan aplikasi akibat masalah privasi atau keamanan. Industri keamanan juga melaporkan lonjakan upaya penipuan selama Cyber Week, menandakan ancaman yang nyata dan berkembang.

AI memicu gelombang baru serangan, termasuk deepfake untuk persetujuan pembayaran, vishing, dan pengambilalihan akun berbasis bot. Meski begitu, mayoritas konsumen melihat AI sebagai peluang: 81,5% menilai AI positif, namun 90% berharap aplikasi dapat memblokir ancaman AI seperti bot, impersonation, dan pengambilalihan akun. Kepercayaan terhadap kemampuan aplikasi untuk menghentikan serangan ini juga tinggi, dengan 72,3% merasa yakin perlindungan in-app efektif.

Ekspektasi konsumen bergeser dari kompensasi ke pencegahan. Sebanyak 84,8% mengutamakan pencegahan penipuan sebelum kerugian terjadi, dan 53,7% menilai pengembang aplikasi bertanggung jawab menghentikan penipuan, bukan perangkat atau operator. Privasi juga menjadi prioritas: 79,2% menilai privasi sangat penting, dan 8,4% menolak menggunakan aplikasi tanpa perlindungan yang jelas.

Temuan ini memberi mandat tegas bagi pengembang aplikasi ritel, perbankan, fintech, travel, dan logistik: tunjukkan perlindungan in-app yang nyata sebelum pengeluaran melonjak. Aplikasi yang mampu melindungi pengguna tidak hanya menjaga kepercayaan, tetapi juga berpotensi mendapatkan promosi organik, 42,7% akan mempromosikan aplikasi aman di media sosial dan 98,4% bersedia merekomendasikannya.