AI
Senin, 2 Februari 2026 18:09 WIB

Industri gaming masih takut dengan AI

Meski perusahaan sudah mulai gunakan AI, industri game masih takut dengan teknologi ini.

Laporan 2026 State of the Game Industry mengungkap paradoks tajam di dunia gaming. Meskipun adopsi alat AI generatif di tempat kerja meningkat, mayoritas profesional industri kini menganggap teknologi tersebut berbahaya bagi masa depan mereka.

Kenapa ini penting?

Ketegangan ini terjadi di tengah gelombang PHK massal, termasuk di industri pengembang gaming. Dilansir dari laman Digital Trends (2/2), para pekerja khawatir AI bukan sekadar alat efisiensi, melainkan strategi penggantian tenaga kerja yang mengancam keamanan kerja dan integritas kreatif.

Survei terhadap 2.300 profesional menunjukkan sentimen yang memburuk :

  • 52% responden menilai AI berdampak buruk bagi industri (naik dari 30% tahun lalu).
  • Hanya 7% yang melihat dampak positifnya.
  • 36% menggunakan AI dalam pekerjaan mereka, namun penggunaannya timpang: 58% di bidang pemasaran/PR menggunakan AI, dibandingkan hanya 30% di studio pengembangan game.

Kenapa ini terjadi?

Kecemasan ini diperparah oleh fakta bahwa 28% responden, dimana diantaranya 33% di AS, terkena PHK dalam dua tahun terakhir. Separuh responden melaporkan kantor mereka melakukan pemangkasan pegawai dalam 12 bulan terakhir.

Pengembang di studio besar seperti EA melaporkan bahwa AI sering kali justru menambah beban kerja. Mereka terpaksa memperbaiki aset yang "berhalusinasi" atau rusak, sambil dihantui ketakutan bahwa mereka sedang melatih algoritma yang kelak akan menggantikan posisi mereka.

Pax insight

Kepercayaan terhadap AI di industri gaming sedang runtuh. Teknologi ini semakin sulit dihindari, namun semakin dibenci oleh tenaga kerja yang menggunakannya.