Tingkat kesiapan Indonesia dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) tergolong tinggi, yakni mencapai 65,85%. Namun, kemajuan ekosistem digital ini diiringi oleh lonjakan kejahatan siber.
Laporan tahunan Kaspersky yang baru saja mereka ungkapkan melaporkan ada 14.909.665 serangan berbasis web di Indonesia sepanjang tahun 2025. Ini berarti, setiap harinya, kita diserang rata-rata 40.848 serangan.
Apa yang terjadi?
Memasuki tahun 2026, AI bertransformasi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, AI membantu tim keamanan mendeteksi anomali lebih cepat; di sisi lain, peretas memanfaatkannya untuk merancang serangan dan memproduksi konten penipuan yang sangat meyakinkan.
Saat ini, lebih dari 1 dari 4 pengguna internet di Indonesia (22,4%) pernah berhadapan dengan ancaman online.
Apa yang diketahui Kaspersky atas serangan ini?
Selama melakukan penelitian, para peneliti dari Kaspersky menemukan beberapa fakta menarik, seperti :
- Jalur masuk favorit: Pelaku kejahatan siber paling sering menyusup melalui celah kerentanan pada browser beserta plugin-nya (drive-by download), serta melalui trik manipulasi psikologis (social engineering).
- Posisi global : Risiko ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-84 dunia sebagai negara paling berbahaya untuk berselancar di web. Peringkat teratas diduduki oleh Belarus dan Andorra dengan tingkat serangan 37,6%.
Bagaimana cara melindungi dari serangan peretas?
- Langkah aman untuk individu : Hindari mengklik tautan atau mengunduh aplikasi dari sumber tak dikenal. Gunakan kata sandi yang rumit, aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA), serta jangan pernah mematikan perangkat lunak anti-malware di perangkat Anda.
- Langkah aman untuk perusahaan : Wajib membangun Pusat Operasi Keamanan (SOC) yang didukung alat pemantauan terpadu (SIEM/XDR), selalu memperbarui sistem untuk menutup celah keamanan, dan memanfaatkan data intelijen ancaman (threat intelligence) terbaru.
Pax insight
Mengingat AI akan semakin masif digunakan oleh peretas, kewaspadaan tingkat tinggi dan perlindungan titik akhir (endpoint) yang proaktif mutlak diperlukan agar pengguna dan perusahaan tidak menjadi korban eksploitasi data.



