Kisah
Jumat, 5 Desember 2025 18:04 WIB

Rusia blokir Snapchat dan FaceTime, khawatir terorisme

Roskomnadzor, badan pemerintah Rusia yang mengawasi dan melakukan sensor media, telah memblokir akses ke Snapchat dan FaceTime.
Ilustrasi: Pinterest

Roskomnadzor, badan pemerintah Rusia yang mengawasi dan melakukan sensor media, telah memblokir akses ke Snapchat dan FaceTime, sebagaimana dilansir dari Engadget. Kedua aplikasi ini dicurigai digunakan "untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan terorisme" serta melakukan penipuan.

Blokir ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh Rusia untuk mengendalikan platform komunikasi. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, pemerintah telah secara progresif menutup akses ke aplikasi komunikasi dan media sosial. Facebook dan X diblokir pada Maret 2022, disusul Instagram tidak lama setelahnya. Pada 2024, aplikasi pesan terenkripsi Signal juga ditambahkan ke daftar larangan. Lalu pada Juli 2025, Rusia mengancam akan memblokir WhatsApp juga.

Meskipun belum jelas apakah pengguna masih bisa mengakses Snapchat dan FaceTime melalui VPN (virtual private network), tren pemblokiran ini menunjukkan strategi yang konsisten dari pemerintah Rusia. Alasan resmi yang diberikan Roskomnadzor sering terfokus pada keamanan nasional atau pencegahan "propaganda LGBT", seperti ketika mereka memblokir Roblox.

Namun, laporan investigasi menunjukkan ada motivasi yang lebih dalam. Pemerintah Rusia tampak mendorong warga untuk beralih ke "MAX," sebuah aplikasi super milik negara yang menawarkan layanan komunikasi, perbankan, dan penyimpanan dokumen. Strategi ini adalah bagian dari inisiatif jangka panjang Rusia untuk mengandalkan industri teknologi domestik daripada perusahaan asing.

Lebih penting lagi, aplikasi MAX bisa memberikan pemerintah Rusia akses yang lebih mudah untuk melakukan pengawasan terhadap warganya. Dengan memiliki kontrol penuh atas infrastruktur dan data yang mengalir melalui aplikasi milik negara, Kremlin bisa memantau percakapan, transfer uang, dan dokumen pribadi dengan lebih efektif.

Strategi ini mencerminkan filosofi "digital sovereignty" yang berkembang di berbagai negara otoriter. Dengan memblokir platform komunikasi asing dan mengalihkan pengguna ke aplikasi lokal yang dimonitor, pemerintah menutup celah untuk "dangerous speech" dan aktivitas yang mereka anggap subversif.

Pax Insight

Pemblokiran Snapchat dan FaceTime bukan sekadar tentang keamanan nasional, ini adalah strategi konsolidasi kontrol digital. Dengan menutup pintu ke komunikasi terenkripsi dan anonim, Rusia sedang membangun "Great Firewall" versi Kremlin di mana setiap interaksi digital bisa dipantau.

Strategi ini juga bertujuan untuk domestifikasi ekosistem digital: mengusir pemain asing agar membuat ruang untuk dominasi teknologi lokal. Ini adalah contoh sempurna bagaimana rezim otoriter menggunakan blokir platform bukan hanya untuk sensor, tetapi untuk pengawasan menyeluruh informasi infrastruktur.