Kisah
Jumat, 10 Oktober 2025 12:10 WIB

Jobs vs Cook: Siapa yang paling bawa Apple ke kejayaan?

Perbandingan 14 tahun karier Steve Jobs dan Tim Cook di Apple. Jobs cetak rekor kenaikan nilai 13.900%, sementara Cook melipatgandakan valuasi hingga Rp60.747 T.

Setiap kisah pertumbuhan perusahaan global selalu lekat dengan narasi kepemimpinan yang karismatik, yang sering disebut sebagai personality cult. Siapa pun yang mencoba mengecilkan peran CEO visioner perlu membaca kembali biografi Steve Jobs dan bagaimana perannya yang masif telah mendorong Apple ke puncak industri teknologi global.

Persepsi publik tentang Jobs yang lebih larger-than-life membuat penggantinya, Tim Cook, sering dianggap sebagai pemimpin yang relatif biasa aja. Padahal, saat ini Apple tidak pernah memiliki valuasi yang lebih besar dari sekarang, namun persepsi itu tetap ada.

Jobs: Sang Revolusioner yang Menaikkan Nilai 13.900%

Di bawah kepemimpinan Jobs, Apple menyaksikan peningkatan valuasi sebesar USD344.5miliar atau sekitar Rp5.657,37 triliun, sebuah lompatan dari nilai awalyang kecil, sekitar USD2.5 miliar atau sekitar Rp41,045 miliar. Kenaikan ini menghasilkan peningkatan yang tak terbayangkan sebesar 13.900%. Selama periode ini, Jobs berhasil merevolusi industri komputasi, musik, dan mobile.

Produk-produk ikoniknya, seperti iMac, iPod, MacBook, iPhone, dan iPad, menetapkan standar yang menjadi tolok ukur bagi produk pesaing di seluruh dunia.

Jobs juga punya kisah penuh drama. Tanggal 16 September menjadi momen legendaris dalam sejarah korporat Apple. Meskipun ia sempat dikeluarkan dari divisi Macintosh oleh John Sculley pada tahun 1985, Jobs kembali ke Apple setelah perusahaan mengakuisisi NeXT miliknya pada tanggal 16 September. Kemudian, ia mengambil alih kemudi setelah Gil Amelio menghancurkan harga saham, yang berpuncak pada peluncuran ikonik iPhone pada tahun 2007.

Tim Cook: Operator Ulung yang Tingkatkan Apple Bernilai Puluhan Triliunan Rupiah

Tim Cook mengambil alih kepemimpinan Apple setelah Jobs mengundurkan diri pada tahun 2011. Sejak saat itu, Apple telah menjadi kisah sukses spektakuler di pasar saham, dengan keuntungan lebih dari 1.500% sejak September 2011. Cook berhasil membawa Apple dari valuasi USD347miliar atau sekitar Rp5.697,6 triliun hingga mencapai USD3.7 triluin atau sekitar Rp60.747,97 triliun.

Kontribusi Cook dalam meningkatkan kapitalisasi pasar Apple sebesar 966% mungkin terlihat pucat dibandingkan upaya Jobs, tetapi transisi dari miliaran ke triliunan adalah pencapaian luar biasa yang diakui sebagai feat among legends.

Di bawah kepemimpinan Cook, Apple meluncurkan jajaran earbud nirkabel AirPods dan menjadi produsen jam tangan terbesar di dunia dengan keluarga Apple Watch. Cook juga memimpin transisi monumental dari prosesor Intel ke chip M1, meluncurkan AirTags, dan yang terbaru, Apple Vision Pro.

Paradoks Stagnasi dan Dilema AI

Meskipun pencapaian finansial dan produk Cook sangat standout, Apple dikritik karena dianggap gagal memanfaatkan AI boom. Secara volume, pengiriman tahunan iPhone sejak 2015 berfluktuasi antara 200 juta dan hampir 250 juta unit, menunjukkan pertumbuhan yang stagnan dalam hal volume. Meskipun divisi layanan Apple berkembang pesat, produk utamanya, iPhone, tidak mengalami pertumbuhan volume yang berarti.

Kontroversi lain datang dari biaya kompensasi Cook. Cook saat ini memakan biaya perusahaan sebesar USD529.000 atau sekitar Rp8,685 miliar untuk setiap 130.000 untuk pencapaian yang sama. Selain itu, Apple akan menghabiskan USD100 miliar atau sekitar Rp1.641,81 triliun untuk pembelian kembali saham di tahun 2025, memicu perdebatan etis di tengah kebutuhan krusial akan investasi AI.

Pax Insight

Satu hal yang pasti, baik Jobs maupun Cook, memiliki peran yang tak terpisahkan dalam kesuksesan Apple. Jobs adalah sang revolusioner yang menciptakan DNA, sedangkan Cook adalah operator ulung yang mengarahkan kapal menuju kemakmuran finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keduanya adalah legenda yang berbeda dengan kontribusi unik pada perjalanan Apple.