Hibura
Selasa, 2 Desember 2025 10:03 WIB

Robot delivery di Chicago dapat petisi untuk berhenti

Sampai November 2025, lebih dari 1.200 penduduk Chicago telah menandatangani petisi untuk menghentikan program robot pengantar makanan di trotoar kota.
Sumber: Josh Robertson

Sampai November 2025, lebih dari 1.200 penduduk Chicago telah menandatangani petisi untuk menghentikan program robot pengantar makanan di trotoar kota, dilansir dari Digitaltrends. Gerakan "Sidewalks are for People" (Trotoar untuk Manusia) dipimpin Josh Robertson, yang awalnya tertarik dengan kehadiran robot namun berubah pikiran setelah menghadapi masalah nyata di lapangan.

Program percobaan ini melibatkan dua perusahaan: Coco Robotics dengan robot berwarna merah muda dengan bendera visibilitas, dan Serve Robotics dengan robot hijau dan putih. Robot ini dirancang untuk mengantar pesanan makanan dari restoran ke rumah pelanggan, beroperasi di 30 lebih kode pos Chicago, terutama di North Side seperti Lakeview, Lincoln Park, dan Logan Square.

Masalah dimulai ketika Robertson menghadapi robot secara langsung saat berjalan bersama keluarganya. Dia menyadari bahwa meskipun trotoar adalah ruang pejalan kaki, robot bergerak seperti kendaraan dengan lampu LED terang dan kamera yang menyorot ke arah mereka. Insting mereka adalah menyingkir dari jalan, padahal mereka seharusnya memiliki hak utama di trotoar.

Keluhan utama mencakup beberapa isu serius. Pertama, aksesibilitas: pengguna kursi roda, tongkat, atau kruk melaporkan robot menghalangi jalur mereka atau bahkan terhenti di tengah jalan. Anthony Jonas bahkan berakhir di rumah sakit setelah tersandung robot Coco, dia butuh jahitan dan perawatan darurat.

Kedua, keamanan: tidak ada data independen yang menunjukkan trotoar lebih aman dengan robot daripada tanpanya. Ketiga, privasi: setiap robot dilengkapi lima kamera yang merekam 24/7 untuk navigasi AI. Perusahaan mengumpulkan "data besar" untuk meningkatkan model otonom mereka, membangkitkan kekhawatiran tentang pengawasan publik.

Keempat, dampak pekerjaan: pengguna khawatir otomasi mengurangi lapangan kerja pengantar makanan. Sebagian penduduk bahkan mempertanyakan dalam forum online apakah mereka bisa "mengepal" robot tanpa konsekuensi hukum.

Perusahaan Coco dan Serve mengklaim robot bergerak maksimal 8 kilometer per jam (jauh lebih lambat saat di trotoar), dilengkapi sensor otomatis, dan mematuhi regulasi kota. Program uji coba dijadwalkan hingga Mei 2026, namun Robertson terus menuntut kota merilis data keselamatan dan aksesibilitas lengkap serta mengadakan dengar pendapat publik sebelum ekspansi lebih lanjut.

Beberapa kota seperti San Francisco telah membatasi jumlah robot, sementara Toronto melarang mereka dari semua trotoar dan jalur sepeda sejak 2021.

Pax Insight

Kasus Chicago menunjukkan bahwa adpsi teknologi otonom bukan sekadar soal inovasi teknis, tetapi tentang negosiasi ruang publik. Robot delivery adalah contoh menarik di mana kepraktisan untuk konsumen online bisa berdampak negatif pada pengalaman pedestrian yang ada.